Butuh keberanian super duper buat kasih liat ini ke kamu. Terutama buat yang ke dua kalinya aku post. kalo kamu lagi baca ini, artinya kamu bakal ketemu sama dunia aneh aku beserta rentetan kejadian imajiner yang cuma berlaku di alam khayal aku. Makasih udah mau baca:)
Note: Anggap aja kamu lagi baca cerpen orang atau apa, jangan coba-coba nyambungin sama kenyataan haha soalnya bakal sangat memalukan buat aku -_-
Kepada Lazuardi
di
Kilometer 956, lapis ke-7
Bumi, 23 Juni 2013
Selamat malam,
Hai
Lazuardi, apa kabar? lama tak menjumpaimu. Lama juga tak mendengar ocehanmu. Aku
tahu kau sibuk akhir-akhir ini. Maafkan aku yang lancang meminjam waktu
istirahatmu. Kuharap kau tidak marah.
Dear Lazuardi, Kau sedang apa? Hei jangan
menatapku dengan tatapan iba seperti itu dong. Aku baik-baik saja kok. Sungguh.
Apa? Kau bilang aku munafik? Raut wajah? Apa yang salah? Aku masih bisa tersenyum.
Oke, setidaknya sekarang.Ini
masih tanggal 23. Oke, berarti masih tersisa 21 hari lagi. 21 hari untuk apa? Bukankah
itu tiga minggu lagi? Ya, hari itu adalah hari dimana aku masuk sekolah lagi. Tercatat sebagai siswi
kelas dua belas, yang berarti sebentar lagi akan masuk ke dunia yang baru.
Dunia yang sebenarnya.
Well,
aku sebenarnya bukan rindu sekolah. Malah aku sangat penat,bosan, dan lelah.
Ketika kau pikir mustinya aku mulai serius memikirkan dimana aku harus les,
apakah aku akan lulus, apakah aku bisa mengerjakan soal UN nanti, atau dimana
aku akan kuliah. Huh, kau tau? Aku sudah memikirkannya dari setahun yang lalu.
Dan aku masih belum yakin pada diriku sendiri-_-Hmmm
aku ingin minta waktu sedikit lagi, aku ingin break dulu memikirkan itu. Aku
ingin merasakan jadi
–remaja-labil-yang-menunggu-waktu-beberapa-bulan-menuju-tujuh-belas-tahun—. Aku
memang belum tujuh belas, tapi bukannya tak ingin, justru aku sangat ingin.
Tapi aku juga ingin mengisi sedikit waktu yang tersisa, sedikit saja. Boleh ya?
Oke,
tadi kubilang aku bukan rindu sekolah, lalu apa? Mungkin bisa kau tebak. Ya.
Aku rindu salah satu siswanya. Tunggu, apa tadi aku bilang rindu? Apa?? Dari
tadi aku bilang rindu?Well,
aku tidak tahu apa aku pantas merindukannya. Aku juga tidak tahu apa dia
merindukan aku atau tidak. Tapi aku tidak mau tahu. Yang jelas, hati tidak
pernah bisa berbohong. Meskipun kau diancam untuk terjun ke jurang, atau
menusuk jarimu dengan pisau, tetap saja tak ada yang bisa merubah kata hati.
Dia akan bersikeras, dia akan jujur, hingga kau menyerah pada akhirnya.
Ini
baru terhitung 3 hari sejak pesan singkat terakhir yang dia kirim. Aku terakhir
melihatnya tanggak 17 Juni 2013, berarti baru 6 hari yang lalu. Sangat
berlebihan bukan jika aku merindukannya?. Mungkin kau pikir, apa susahnya
mengetik “Haii” ke nomor ponselnya. Lalu duduk manis hingga dia pun menjawab
“Haii juga”. Selanjutnya aku akan seperti orang gila menertawakan ponselku
sendiri (setidaknya itu yang orang tuaku katakan).Tentu
itu akan sangat mudah, bila saja keadaannya bukan seperti sekarang. Bila saja
disini hanya tertulis ‘kita’, atau ‘aku dan kamu’. Bukan ‘aku, kamu, dan dia’.
Malah lebih parah. ‘aku, kamu, dan mereka’. Konyol sekali bukan?
Bukan,
aku bukannya merindukan orang lain selain dia. Bukan juga dia yang merindukan
orang lain dan pergi meninggalkan aku. Bukan kita. Lalu siapa? Dia.... temanku
sendiri.Yah
kau boleh anggap aku gila. Brengsek. Penghianat. Tukang makan teman. Tukang
tusuk dari belakang. Atau semacamnya. Karena aku telah melakukan kesalahan
besar, aku telah menghancurkan harapan temanku sendiri. Harapan yang telah ia
bangun susah payah. Tembok kokoh yang dibangunnya diam diam tanpa
sepengetahuanku. Berdiri kokoh dihadapanku. Berusaha menutupi pandanganku
kepadanya, kepada orang yang sedang aku rindukan.
Dulu
temanku bilang, benteng itu bukan tembok. Hanya triplek tipis yang sewaktu
waktu tertiup angin dan hilang. Ketika aku tanya, ‘Dapatkah aku merengkuh
seseorang diseberang sana? Yang kau tutupi dengan triplek tipismu?’. Dan dia
menjawab dengan anggukan dan senyum, ‘Kau boleh mendekatinya sesukamu, tembokku
kokohku bukan untuk menutupinya, ku kira kau tahu siapa yang ku maksud’. ‘Aku
tau kau tidak akan menghancurkan tembok itu,apalagi mengantikannya dengan
sehelai triplek usang, kau sudah membangunnya dengan susah payah’ jawabku
sambil menatapnya, dia menatapku balik, mempelajari lensa mataku. Kusingkirkan
triplek itu pelan pelan. Dan melangkah mendekati sosok dibaliknya.
***
Hari
demi hari aku selalu mengagumi, memperhatikan, sosok itu. Sosok yang dulu
berada dibalik triplek milik temanku. Sosok yang kini berada di hadapanku.
Melempar senyum, dan tertawa bersamaku. Aku selalu menceritakan sosoknya pada
teman-temanku, termasuk pada si pemilik triplek. Dia bilang, dia bahagia
melihat aku dan sosok indah itu bersanding. Aku pun semakin yakin, dia telah
membuang triplek itu, karena tak kulihat itu dimana pun. Bahkan dia berani
membesarkan harapanku, dia mendukungku untuk mencintai sosok itu.Sosok
itu kini semakin membuatku penasaran.
Aku tak pernah menyesal sudah
mengenalnya. Aku selalu mengunjungi rumahnya, bercengkrama di terasnya yang
sejuk dan sederhana. Membicarakan ini itu, menertawakan ini itu, aku sangat
nyaman berada di dekatnya. Bahkan kadang dia yang mengunjungi rumahku. Lalu
kami akan menyesap teh panas pelan pelan sambil mengagumimu di beranda rumahku.
Bahkan aku bisa merasakan teh tawarku perlahan lahan menyisakan rasa manis di
lidahku, ketika disaat yang bersamaan aku melihat senyumnya saat menatapku. Dan
kamu, benar benar mengerti dimana harus menampakkan berlian berlian indah itu,
saat kau pelan pelan membentangkan tirai hitammu. Dan bulan pun datang menjadi
diva di malam itu, memamerkan cahaya pinjamannya dari matahari. Sungguh luar
biasa.
***
Di
suatu pagi yang cerah, seperti biasa, aku mengunjunginya, membawakan beberapa
kue kering kesukaannya. Ketika aku sampai di halaman rumahnya, kulihat
bongkahan batu berserakan. Dia sedang menatap batu batu itu dengan tatapan yang
tak ku mengerti. Aku bertanya padanya, ‘dari mana datangnya batu-batu ini?’.
Dia hanya menjawab sekenanya ‘entahlah, sepertinya ada yang akan membuat pagar
di sebrang sana’. ‘pagar? Apa nanti aku masih bisa mengunjungimu? Ucapku penuh
harap. ‘aku tidak tau’ jawabnya sambil berlalu. Aku pun terpaku menatap
punggungnya.
***
Sudah
hampir seminggu aku tidak mendengar kabar sosok itu, mungkin dia sakit. Aku pun
memutuskan untuk menjenguknya, sambil membawa beberapa buah apel dan pear
kesukaannya. Aku pun berjalan menyusuri jembatan kecil, melewati sungai sungai
dangkal, seperti biasa aku mengunjunginya.Tapi
jalan yang kutelusuri malah membawaku ke sebuah bangunan maha megah yang
berpagar tinggi. Pagarnya ditutupi mika hitam, sehingga aku tak bisa mengintip
siapa pemilik rumah indah ini.
Sudahlah,
tak apa. Lagipula aku tidak peduli siapa yang mendiami rumah megah itu, toh aku
tidak mengenalnya. Tujuanku kesini adalah mengunjungi sosok yang ku rindukan,
lalu aku pun melanjutkan perjalanan ku melewati rumah itu. Menyusuri pepohonan,
belukar rendah. Seharusnya disini. Tapi kenapa aku tak menemukannya? Mana
mungkin aku lupa? Baru seminggu yang lalu aku mengunjunginya. Kucoba
mengingat-ingat lagi. Apa aku salah jalan? Ku telusuri lagi hati hati. Tidak
ada. Tidak ada rumah lain di tempat ini. Hanya ada rumah megah itu.
Hatiku
mulai geram, apa iya pemilik rumah ini begitu sombong sampai menghancurkan
rumah pujaanku? Memindahkannya ke tempat lain? Aku harus meminta penjelasannya.Aku
berdiri di depan rumah megah ini. Menatapnya geram, sambil mencari cari tombol
yang layak disebut bel. Oh sial, rumah ‘jelek’ ini bahkan tidak memiliki bel.
Apa pemilik ini tak pernah mengenal istilah tamu atau kunjungan? Pastilah dia
sangat angkuh hingga tak pernah ada yang berniat menyinggahi rumahnya. Aku sungguh sungguh kehabisan akal, hingga ku
temui celah kecil di pagarnya. Bagian yang tak tertutup mika. Kurasa, aku bisa
melupakan sebentar ajaran sopan santun dari ibuku, dan mulai merundukan
kepalaku untuk mengintip apa yang ada balik pagar tinggi ini. Bahkan mungkin akan
meneriakinya apabila kutemukan manusia disana.
Mataku
terus bergerak gerak liar. Berjaga kalau kalau saja ada yang menarik. Dan ya..
ternyata usahaku tak sia sia, ada dua orang yang sedang bercengkrama di sebuah
taman cantik. Sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang sangat menarik,
sesekali bahkan terdengar samar gelak tawa renyah diselasela percakapan mereka.
Seseorang yang sedang menghadap ke arahku, adalah seorang gadis cantik bermata
coklat,dengan gaun putih layaknya bidadari. Menggenggam setangkai mawar dan
menghirupnya pelan pelan.
Dihadapannya, seorang lelaki berpostur tinggi, sedang
menjelaskan sesuatu dengan semangat. Entah kenapa sepertinya lelaki itu
memiliki bahu yang kokoh, seperti aku mengenalnya. Dan ketika mulutku baru saja
akan terbuka untuk meneriaki mereka –aku baru sadar aku malah memperhatikan
mereka—, lelaki itu memalingkan wajah sehingga sebagian wajahnya terlihat dari
posisiku.
Mulutku seketika terkatup. Aku baru sadar, ternyata adalah dia sosok
yang ku cari. Yang sedang bercengkrama dengan bidadari. Yang membangun pagar
yang digembok erat. Yang sepertinya tidak menginginkan aku datang. Ku remas
erat erat keranjang apel yang sedari tadi kubawa. Mataku memanas seketika, aku
baru sadar bahuku terguncang hebat sedari tadi. Aku masih terpaku disana,
menyandarkan punggungku pada pagar tinggi itu. Melorotkan tubuhku hingga
sekarang aku malah berjongkok sambil menatap buah buah malang ini. Tidak, aku
lebih malang. Aku tidak diinginkan.
Kau
tidak menghiburku Lazuardi. Kau malah memerintahkan mega untuk menangisiku. Apa
sepayah itukah aku? Tolong jangan buat aku semakin menyedihkan. Air mata
kumpulan mega itu kini membasahi wajahku, juga tubuhku. Aku pun menengadahkan
kepalaku, menatapmu hingga air mataku bercampur dengan air mata sang mega.
Namun kau diam dan membisu. Hingga aku pun menyeret langkah untuk kembali ke
rumahku. Now, look how pathetic I am.
***
Sisa
sisa hujan masih terasa, bau aroma tanah basah dan dedaunan yang meneteskan air
mata mega masih melakukan rutinitasnya. Dingin. Hujan telah usai, tapi matahari
pun tak membuat semuanya jadi hangat. Aku menangis di bahu sahabatku, si
pemilik triplek.
Dia membelai rambutku pelan pelan. Tersirat dari sorot matanya
‘semua akan baik baik saja’. Dan aku percaya padanya. Ya, semua akan baik baik
saja. Semoga begitu. Dia selalu menghiburku di saat saat seperti ini,
membiarkanku menghirup uap lembut teh panas yang dia sediakan untuk menghadiahi
kunjunganku. Yang bersedia mendengarkan suara hatiku dan semua residu rasa yang
tersisa. Diam-diam aku sangat berterimakasih padanya. Dia sangat memahami
perasaanku.
***
Sudah
2 musim beranjak meninggalkanku, tak terasa. Aku sudah terbiasa dengan
ketidakhadiran sosok itu, aku sudah bisa tersenyum. Walau diam diam aku juga
merindukannya. Sketsa yang dulu berisi lukisan sosoknya dan harapanku kini
sudah penuh dengan coretan, sobek sana sini, dan bercak air mata yang sudah
mengering. Aku ingin melupakannya. Aku ingin menghapus sosoknya dari semua buku
sketsa ku.
Aku memaksa diriku sendiri untuk membencinya.Dan
ternyata waktu sudah berbaik hati membantu menyembuhkan luka. Aku pikir aku mulai melupakannya. Mulai
melihat dunia dari sisi lain. Kini senyumku benar-benar senyum. Kini aku sudah
bisa merasakan matahari. Hangatnya. Terang sinarnya. Hujan tak turun selamanya.
Tuhan telah berbaik hati telah memberikan uluran tangan-Nya. Membiarkan
matahari menepis hujan yang mulai menipis.
***
Hujan
memang sudah menipis. Kabut telah pergi. Matahari juga menemani. Tapi pelangi
hanya datang sesaat. Hangatnya matahari memang bukan untuk aku nikmati lama
lama. Rasa hangat itu terbang terbawa angin. Aku kedinginan. Dan rasa sepi
menyergap perlahan di sudut sudut hati. Aku sendirian lagi.
Aku
ingin sekali membunuh sepi. Mengusir penat dan meminjam pelangi sebentar saja.
Aku memutuskan pergi sebentar saja. Ke Pantai, atau ke taman. Sendiri saja.
Tanpa siapapun.
Aku
memulai perjalananku. Aku ingin bertualang. Aku baru sadar aku sudah lama tak
memiliki waktu untuk diriku sendiri. Aku menyusuri hutan, jalan raya,
sungai-sungai panjang, jembatan.. betapa indahnya kesendirian. Dalam
perjalananku, aku melewati lembah tempat kediaman sosok itu. Aku melihat rumah
barunya dari jauh, masih tetap indah. Walau terlihat agak sepi. Aku tidak
berniat mendekatinya, apalagi berkunjung. Aku pun melanjutkan perjalananku, berusaha
tak memperdulikan rumahnya, dan penghuninya.
Aku
bertemu beberapa orang disana. Tapi aku terus berjalan. Sebagian menatapku
aneh, aku tidak mengerti. Kalian ini kenapa?. Aku bahkan bertemu beberapa
temanmu, aku melempar senyum, mereka temanku juga. Beberapa dari mereka
tersenyum balik, yang lainnya sibuk membicarakan sesuatu. Berbisik bisik sambil
menatap ke arahku. Ingin rasanya aku teriaki ‘Hei, apa yang kalian bicarakan?
Apa ada yang salah denganku?’. Tapi ku urungkan niatku sambil berkata dalam
hati ‘siapa peduli?’. Lalu kulanjutkan perjalanku. Aku tak peduli!
Tapi
sorot mata dan bisikan mereka lama-lama membuatku tak tahan. Aku terus
berjalan, menunduk. Langkahku semakin cepat. Aku ingin cepat-cepat keluar dari
lembah ini. Aku sangat tidak nyaman. BRAAK!!. Kurasakan tubuhku sendiri
menabrak sesuatu yang kuat. Tidak, bukan sesuatu. Ternyata seseorang. Aku pun
tersungkur dipangkuan tanah. Lalu menengadah melihat manusia sial yang
menghalangi jalanku. Kurasa pengelihatanku salah. Dia? Seseorang itu?. Sosok
yang membuatmu menurunkan hujan. Yang pernah ku rindukan. Yang harus
bertanggung jawab atas porak porandanya perasaan. ‘Kau?’ ucapnya, tampak kaget melihat
kehadiranku yang mungkin tak terpikirkan olehnya. ‘Apa?’ jawabku sambil
menatapnya. ‘Emm maafkan aku, sini, biar ku bantu’ katanya sambil menyodorkan
tangannya di hadapanku. Aku menatap lengan itu, jemarinya, terulur di depan
mataku. Dia menatap ku, lalu menyodorkan kembali tangannya.
Aku menerimanya
dengan canggung. Lalu bangkit dihadapannya. Suasana mendadak sangat alot.
Canggung.Beberapa
orang memerhatikan kami. Aku menatap mereka balik, berusaha memberi tatapan
‘Whats wrong?’. Mereka masih menonton kami. Aku tidak mengerti, sampai aku baru
sadar aku mengacuhkan sosok dihadapanku. ‘Hei apa kau mendengarku?’ ucapnya
sambil menggerak gerakan tangannya di depan wajahku, berusaha mencuri
perhatianku. ‘Kau mau kemana?’ tanyanya lembut. ‘Eh?, aku baru sadar sedari
tadi dia berbicara. ‘Apa katamu?’. ‘Kau mau kemana sendirian?’ dia mengulangi
lagi pertanyaannya. ‘Kau tak perlu tahu’ jawabku singkat.
Aku baru mulai beranjak lagi, memunguti
barang-barangku yang berserakan di tanah karena jatuh tadi. Dia malah
membantuku membereskan barang-barangku. Aku masih merasa tak nyaman dengan
tatapan orang-orang disekitarku. Sampai aku menangkap sebuah tatapan tak wajar.
Tatapan milik mata coklat yang kelihatan tidak sehat. Sembab. Aku baru
menyadari milik siapa mata sembab itu. Dia bidadari yang ku lihat di taman
rumah sosok pujaanku. Dia menatapku tak suka, dan aku makin jengah ditatap
seperti itu. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini.
***
Aku
menghentakan langkah-langkah kecilku. ‘Hei, apa yang kau lakukan? Jangan mengikutiku!’ucapku
dengan nada ketus. Bukannya berhenti, sosok di belakangku malah tertawa melihat
bibirku yang mengerucut. ‘Kau mau kemana?’ Tanyanya tanpa memerdulikan sikapku
yang risih dengan kehadirannya. ‘Bukan urusanmu!’ Jawabku sambil mempercepat langkah.
‘Hey itu urusanku, tak ada yang menjagamu jika kau pergi sendiri, diluar sana
sangat berbahaya’ Jawabnya dengan tatapan serius. ‘Apa pedulimu? Aku bisa
menjaga diriku sendiri’ Jawabku , balik menatapnya menantang. Dia hanya diam
dan tersenyum. Dan aku tak bisa berbuat apa apa lagi selain berusaha tak
memerdulikannya, dan mengenyahkan gejolak hati yang tak tau diri muncul disaat
seperti ini.
Aku
terus berjalan tak tentu arah. Kamu malah memperlihatkan awan hitammu, juga
cahaya putih supercepat diantaranya. Kau menyebalkan. Sesuatu yang dingin pecah
dan mengalir di ujung hidungku, hal yang sama juga terjadi di pipi, lalu di
rambutku. Semakin lama semakin sering, tapi tiba tiba saja berhenti dan udara
disekitarku menjadi hangat. ‘Tuh kubilang juga apa’. Aku menengadah menuju
tatapan hangat orang yang berada disampingku, ‘Hei ini hanya hujan’. Dia tidak
mendengarku, malah sibuk membenarkan posisi jaketnya yang melorot karena bahuku
terlalu kecil untuk ukuran jaketnya. Dia menjaganya agar tidak jatuh. Dia
merangkul bahuku.
Aku
bisa melihat bulir-bulir air yang jatuh dari hidungnya. Juga gemeretak giginya
yang kedinginan. ‘Kau kedinginan?’ tanyaku, aku tidak tega melihat wajah
pucatnya. ‘Tidak, aku tidak apa-apa’ Dia menepis dengan senyum yang agak
dipaksakan. ‘Bohong. Sebaiknya kita menepi’ jawabku sambil mencari tempat untuk
berteduh. Kita memelankan langkah. Dan tangannya tiba-tiba menarikku ke sebuah
tempat. Kita
berhenti di sebuah rumah kosong yang tampaknya cukup hangat. Rumah kayu itu
tampaknya sudah lama tak berpenghuni, dilihat dari kayu kayunya yang sudah
lapuk dan sulaman jaring laba-laba di atapnya. ‘Tempat ini cukup hangat, kita
bisa menunggu sampai hujan reda dan melanjutkan perjalanan’ Ucapnya dengan
bibir bergetar, rupanya dia sangat kedinginan. ‘mmm.. tapi aku sudah tak
berniat melanjutkan perjalanan, kita pulang saja’ jawabku sambil menatap hujan.
Dia malah menatapku, lalu menyibakkan helai rambut basah yang menutupi wajahku
‘Apa? Tapi kenapa? Apa kau tak suka aku mengikutimu? Aku.. kalau begitu aku
menyesal, aku akan pergi’ wajahnya mendadak muram. Buru-buru aku mematahkan
anggapannya, ‘Tidak, maksudku.. bukan begitu, aku.. aku senang kok kau temani,
aku hanya rindu rumahku’ jawabku. Dia tak menjawabku. Hanya tersenyum sambil
menatapku, lalu mengeratkan jaketnya yang masih memeluk tubuhku.
***
Rinai
rinai hujan sudah tinggal setitik-setitik. Aku menjulurkan telapak tanganku ke
bawah ujung-ujung genting yang mengalirkan sisa-sisa air hujan. Aku selalu suka
melakukan ini dari aku masih kecil. Seketika senyumku tersungging. ‘Ayo’ ujar
sosok itu sambil menarik tanganku yang masih basah. Kita pun menyusuri jalanan
becek sambil mengobrolkan macam-macam. Tepat seperti dulu. Kini aku bisa
melihat kilauan kilauan air dari ujung rambutnya yang terpantul sinar matahari,
sinar kesukaanmu. Dan kini engkau tak ragu ragu menunjukan senyummu, dalam
sebentuk berkas cahaya warna-warni yang mengagumkan di bentangan tubuhmu.
Terimakasih lazuardi.
***
‘Fiuuuuuh’
lelah sekali. Tapi senyum tak henti-hentinya tersungging di wajahku. Aku sampai
lupa kalau pakaian ku masih basah karena hujan tadi. Aku pun segera beranjak
mandi dan berganti pakaian. Sambil mengeringkan rambutku, tak sengaja kulihat
kain tebal abu-abu yang terdampar di atas sofa rumahku. Ya Tuhan, aku lupa
mengembalikan jaketnya. Segera ku raih jaket itu, menyimpannya di keranjang
cucianku. Aku akan mengembalikannya besok. Aku pun tersenyum, diam diam aku
bersyukur aku melupakan jaket itu. Karena itu berarti, aku akan menemuinya
besok.
Esoknya,
aku memasukan jaketnya ke dalam keranjangku, juga disertai kue manis yang baru
kubuat tadi pagi. Masih hangat. Hari ini aku memakai baju terbaikku, rambutku
yang biasanya kugerai atau kuikat asal kini kusematkan jepit rambut berbentuk
pita yang sudah lama tak aku pakai. Aku tak henti-hentinya tersenyum pada
diriku sendiri, mungkin jika ada seseorang yang tak sengaja melihatku, mereka
akan berpikir aku tidak waras.
***
Aku
sampai di rumahnya. Tapi kini keadaannya berubah lagi. Walaupun masih berbentuk
bangunan megah, tapi kini pagarnya tidak setinggi dulu, dan yang paling
mengejutkan adalah.. ada bel!. Aku tak bisa menahan diriku untuk tertawa. Lalu
ku tekan saja tombol berbentuk lonceng emas di pinggir pagarnya. ‘TING TONG’.
Keluar seorang lelaki bertubuh menjulang dari balik pintu. Sesegera mungkin ke
sunggingkan senyum lebarku, dia pun tertawa melihatnya.
Aku
masuk ke rumahnya. Hangat. Tidak sedingin waktu pertama kali aku masuk.
Pekarangannya, beranda rumahnya yang nyaman, semua berubah. Lebih terurus. Aku
memerhatikan sekelilingku, tempat ini benar-benar nyaman. ‘Hei kau mau minum
apa?’ teriaknya dari dapurnya yang letaknya terbuka dari ruang tamu, jadi aku
bisa melihat apa yang dilakukannya. Aku pun menghampirinya, ‘Mmmm teh hangat?’.
‘Kamu dari dulu selalu meminta itu, aku punya beberapa kotak orange juice dan
cokelat panas, kau mau?’ tanyanya sambil menggoyangkan kotak-kotak minuman
kecil yang dikeluarkannya dari kulkas. ‘Ku pikir cokelat panas lebih baik’
jawabku yakin. ‘Oke!’ dia mengangguk setuju, dan menyiapkan panci kecil untuk
menghangatkan cokelat itu.
Aku
dan dia duduk di taman kecil di pekarangan rumahnya. Sungguh, aku tidak bisa
melepaskan pandanganku dari bunga lili putih yang menebar pesonanya di tepi
kolam. ‘Jika kau mau kau boleh memetiknya satu’ Ujarnya, ternyata dari tadi dia
memerhatikanku. ‘Tidak usah, aku tidak ingin menyakitinya, kurasa memandanginya
seperti ini lebih baik’ ucapku sambil menyeruput cokelat panasku. Aku
memejamkan mataku, lalu menghirup udara coklat panasku, ah harum sekali.
Seketika terlintas di benakku wajah sang bidadari, yang beberapa waktu kulihat
sedang bercengkrama di tempat yang sedang kududuki sekarang. Siapa sih dia?
Seperapa spesialnya sampai dia bisa membuat seseorang disampingku menutup diri?
‘Hei
kau melamun?’ tanyanya sambil menyentuh pundakku. ‘Tidak, aku hanya sedang
berfikir’ sanggahku. ‘Apa yang kau pikirkan? Jika tak keberatan, kau boleh
membaginya bersamaku’. Aku terdiam sebentar, mungkin tidak apa-apa ‘Aku.. aku
ingin tahu, siapa gadis itu.’ Jawabku ragu, tapi aku benar-benar ingin tahu.
‘Gadis? Maksudmu Lyra?’ jawabnya sambil mengerutkan kening. ‘gadis bermata
coklat yang dulu duduk disebelahmu, seperti aku sekarang’ aku berusaha
menyembunyikan wajah tak nyamanku. ‘Oh dia Lyra, dulu kami pernah saling
mencintai’ sambil tersenyum, diteguknya cokelat panas sekali lagi. ‘Oh ya?
Kalian memang serasi hehe, lalu sekarang? Apa kalian sedang ada masalah?’ aku
tak bisa membendung rasa ingin tahuku. ‘Rasa cinta bisa saja memudar, kupikir
aku dan dia tidak cocok, dan... ku rasa aku tidak bisa melupakan seseorang’
jawabnya, dia tak berani menatap mataku. ‘apa kau jatuh cinta pada gadis lain?’
aku berusaha membaca ekspresi wajahnya. ‘kurasa..’ jawabnya ambigu. ‘Itu kamu’
lanjutan ucapannya malah membuatku tercekat. Pandangan kami bertemu, dan
seketika saja kau terlihat lebih biru. Hangat dan indah.
***
Langit
senja yang keunguan menatapku pasti. Terimakasih atas semua keindahan ini,
lazuardi. Mungkin konyol jika aku bilang, aku jatuh cinta dua kali. Dengan
orang yang sama. Atau mungkin dari dulu perasaan itu tak pernah hilang, dia
ada, namun membenamkan diri entah dimana. Yang pasti, saat ini aku merasakan
hal ini. Ketika keadaan hatiku mulai membaik. Jauuh dari sebelumnya.
Sore
ini, dia akan mengunjungiku. Sebentar lagi pasti datang. Aku sudah membereskan
seluruh sudut ruangan rumahku, tak membiarkan sebutir debu pun bersarang. Aku
sedang mematut diriku di depan cermin, ketika seseorang memencet bel rumahku.
‘Ah! Itu pasti dia!’ aku berlari kecil menuju pintu rumahku, sambil menyiapkan
senyum semanis mungkin, aku pun menarik daun pintu dengan perasaan berdebar.
PLAK!Sial!
Manusia mana yang berani menamparku dirumah ku sendiri. Aku sudah melupakan
sosok pangeran membawa bunga di hadapanku. Yang ada adalah tatapan paling
sengit yang kusiapkan pada manusia kurang ajar ini. Aku sudah siap melempar
tatapan nanar pada manusia dihadapanku, ketika justru yang kutemui adalah mata
sembab dan bibir bergetar menahan marah. Milik sahabatku. Pemilik triplek.
Semua kata serapahku ku telan bulat-bulat. Ku muntahkan kalimat dari bibirku
dengan tertahan, ‘Kau ini kenapa?’. Bahu sahabatku itu terguncang hebat, lalu
dia terduduk sambil menutupi wajahnya yang sudah banjir air mata. ‘Hei, apa
masalahmu?’ aku berusaha tenang sambil menahan rasa panas di pipiku aku akibat
tamparannya yang lumayan keras. ‘Apa salahku?’ tanyanya, akhirnya mulai membuka
suara. Aku sedikit bingung, seharusanya aku yang bilang ‘Apa salahku?’ padanya,
dia yang tiba-tiba datang kerumahku, ditambah menamparku juga. ‘salah?
Maksudmu? Aku tidak mengerti’ aku memang benar-benar tak mengerti. Tatapannya
semakin buas, seakan akan ingin melumat habis seluruh isi tubuhku, ‘kau memang
tak mengerti. Kau tak punya hati’.
***
Aku tak punya hati? Perkataannya tempo hari
benar-benar tak bisa minggat dari pikiranku. Tak pernah ada yang menyebutku
seperti itu sebelumnya, terlebih sahabatku sendiri. Dia sudah mengenalku cukup
lama, bisa-bisanya dia mengataiku tak punya hati. Apa pertemanan kami selama
ini hanya dianggapnya sampah hingga dengan sekejap saja dia bisa meng-klaim
bahwa ‘aku tidak punya hati’?. Aku tak habis pikir, aku benar-benar tak
mengerti.
Pagi ini, aku akan mengunjungi sosok itu, aku
ingin mencurahkan kekesalanku –juga kebingunganku—. Mungkin sedikit bisa menenangkanku,
juga aku ingin menanyakan perihal ketidakhadirannya kemarin. Walau aku
bersyukur juga dia tidak melihat kekacauan yang terjadi dirumahku.Aku sudah dirumahnya, kutekan tombol merbentuk
lonceng emas beberapa kali. Dengan harapan si pemilik rumah cepat-cepat
membukakan. Tapi rupanya daun pintunya masih belum menunjukan tanda-tanda akan
bergerak. Mungkin dia belum bangun. Kuputuskan menunggu di luar, sambil
diam-diam kuperhatikan arsitektur rumahnya.
Lazuardi, ini sangat mengagumkan.Tunggu.Apa itu?Mataku tercekat
begitu melihat sebilah papan kokoh terpancung di sana. Aku pun mendekatinya, ku
raba pelan-pelan hingga aku dapat merasakan reliefnya yang kasar. Ini... ini
triplek yang kusingkirkan dulu. Tapi.. lebih kuat, kokoh, dan terurus. Sepertinya
sudah beberapa hari dipasang disini, tapi aku tidak menyadarinya. Aku terdiam.
Aku menyadari sesuatu. Aku bergerak mundur dan menjauh. Aku tak tahu aku bisa
sebodoh ini.
***
Aku memerhatikan foto aku dan
sahabatku yang biasa terpajang di meja lampu kamarku. Aku sudah menjadi
temannya dari kecil. Dan, kupikir... terlalu bodoh jika benteng persahabatan
yang kita bangun lama, hancur hanya karena satu dari bagian batunya tidak cukup
kokoh. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku bingung. Aku benar-benar
bingung.Jadi inikah sebab dia menamparku
kemarin? Karena sosok itu? Dia mencintainya lagi, atau... itu masih perasaan
yang dulu?. Tunggu, bukannya dia bilang di mencintai seseorang yang berada di
dekat rumahnya, yang dari dulu selalu di puja-pujanya? Yang sepertinya
mencintainya juga. Apa hubungan mereka saat ini sedang tidak baik hingga
sahabatku ini memutuskan untuk menyukai sosok itu. Ah, aku tidak mengerti
dengan perasaannya.
Kalau iya, jika ia memang mencinta
sosok itu, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menjauhinya? Mengingat
dulu, memang dia yang terlebih dahulu membangun benteng. Jika aku menjauhinya,
apakah sosok itu tidak akan marah padaku? Pastilah sosok itu akan merasa
dipermainkan. Karena aku datang dan membuatnya senang, lalu pergi dan
menghilang tanpa jejak. Tidak, aku tidak mungkin melakukan ini. Lalu aku harus
apa?Aku
tidak habis pikir. Padahal, dulu aku lah yang selalu ‘iri’ dengan kehidupannya.
Terutama kisah cintanya. Iri disini, maksudku bukan ingin menghancurkan atau
semacamnya. Aku hanya sedih karena tidak bisa memiliki kisah cinta seindah
kisah-kisah miliknya.
Jika dibandingkan dengan aku, mungkin semua orang akan
memilih dia. Dia adalah gadis yang supel, ceria, pandai bicara, terbuka, punya
banyak teman.. sementara aku? Aku hanya gadis pendiam, introvert, tidak komunikatif, dan mungkin kesan pertama
orang yang berkenalan dengan ku adalah ‘nerd’ atau ‘geek’ atau semacamnya yang
jelas tidak mengasyikan.
Kisah cinta nya pun selalu berlangsung membahagiakan.
Ketika dia menyukai seseorang, dia selalu bisa membuat orang itu
memerhatikannya, lalu mendekatinya. Ditambah lagi, dia memang cantik. Dia orang
yang penuh harapan, begitu juga orang lain mungkin banyak yang berharap
padanya. Dia dan aku sangat berbeda.Selama
kami mengobrol, dialah yang selalu menguasai percakapan. Kebanyakan kami selalu
mengobrol tentang dirinya. Aku lebih sering mendengarkan, atau sesekali
menanggapinya dengan ‘oh begitu’ atau ‘masa sih’ atau semacamnya.
Meski pernah
juga aku bercerita tentang diriku. Tapi dia selalu menanggapinya dengn
ceritanya. Sehingga selanjutnya kita akan membicarakan dirinya lagi. Dia selalu
bersemangat saat menceritakan dirinya.Aku
baru sadar, sebagai ‘pasangan’ sahabat. Harusnya kita saling bercerita. Tapi
yang terjadi malah setiap aku bercerita, dia selalu memotong dengan ceritanya.
Akhir akhir ini aku mulai menganggap ocehanku tidak cukup penting untuknya. Aku
jarang bercerita lagi tentang aku padanya. Aku resmi jadi pendengar.Mungkin
juga ini sebabnya, dia tidak mengetahui hubunganku dengan sosok itu. Aku memang
jarang bercerita padanya, seperti yang tadi aku sebutkan.
Mungkin inilah yang
menjadikan kita ‘Discomunication’. Dia tidak tahu seberapa jauh hubunganku
dengan sosok itu.Aku
tidak bisa memikirkan ini sendirian. ini kan bukan hanya menyangkut perasaanku.
Aku harus menanyakan hal ini padanya.
***
Malam
ini kau menghembuskan udara yang sangat dingin, hingga aku harus berkali- kali
merapatkan jaketku. Jarak rumahku dan sahabatku memang tidak terlalu jauh, tapi
cukup membuatku menghela nafas karena malam yang pekat juga udara yang tidak
bersahabat membuat perjalanan lebih panjang.
Aku
sampai di rumahnya. Ku goyang kan lonceng berbentuk owl di pagarnya. Rumahnya
memiliki kesan hangat, dengan lampu-lampu keemasan yang berpendar dari celah
jendelanya membuatku membayangkan betapa nyamannya didalam sana. Seorang gadis
muncul dari balik pintu. Aku pun menyembulkan kepalaku dari pagar agar dia
dapat melihatku. Dia menyunggingkan senyum tipis. Lalu mempersilahkan aku
masuk.
Tidak
seperti biasanya. Tak ada teh hangat. Aku duduk di kursi ruang tamunya dengan
canggung. Kata-kata yang sudah aku susun kemarin mendadak buyar dari kepalaku.
Berserakan disana-sini. Suasana yang hangat bahkan tak turut merubah keadaan
menjadi hangat.
Kita terdiam cukup lama.‘Aku
sudah tahu, kenapa kemarin kau marah padaku’ akhirnya aku berani memulai
percakapan. Dia memandangku. ‘Ku kira kau sudah tau, aku menyukainya sejak
lama’ ucapnya santai. ‘Aku tidak tahu kau seserius ini, maksudku... bagaimana
dengan orang yang waktu itu kau ceritakan? Kau tidak memiliki perasaan
dengannya? Maksudku.. kalian kan cukup dekat’ Aku mulai membiarkan rasa ingin
tahuku mengambil alih. ‘Maksudmu dia? Aku dan dia hanya ‘Adik-kakak’, aku tidak
benar-benar menyukainya’ jawabnya, lagi-lagi dengan nada suara yang santai. Aku
mulai kehabisan pertanyaan, ‘Aku pikir kalian saling menyukai’, aku tersenyum
hambar. ‘Tidak, saat ini aku menyukai dia’ ucapnya sambil menunjuk foto yang
tergantung di dinding di hadapannya. Foto itu ada di belakangku. Foto sosok
yang saat ini aku sukai. Aku terdiam.‘Kau
masih menyukainya? Kudengar kalian cukup dekat akhir-akhir ini’ ucapannya
sedikit pedas. Aku menoleh ke arah lain, ‘Aku memang menyukainya’. ‘Kita
menyukai orang yang sama, dan itu bukan hal yang bagus’.
Kini aku berani
menatapnya, ‘Lalu apa yang harus aku lakukan?’. Dia tersenyum, ‘Aku juga sedang
dekat dengannya, kemarin dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang’. Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri berdentum
diluar batas. Sakit.
***
‘Jadi, ada apa malam-malam berkunjung
kesini? Tidak biasanya’. Ku teguk tehku sampai rasa hangatnya menjalar meresapi
kerongkonganku. ‘Aku hanya ingin mengunjungimu’ jawabku, lagi-lagi bersembunyi
dibalik cangkir teh. ‘Ternyata bukan kedatanganmu saja yang tidak biasa,
sikapmu pun tidak biasa. Ayo ceritakan, ada apa?’ ucapnya sambil menggeser
posisi duduknya. ‘Emmm.. temanku.. temanku menyukaimu’ .
Air mukanya berubah,
tapi terus meyimak ceritaku. Selanjutnya ceritaku pun mengalir. Tentang triplek
itu, tentang perasaannya, dan aku yang berniat sedikit menjaga jarak dengannya.Dia
tampak berfikir. Aku ingin tahu apa tanggapannya. ‘Mmm.. jika kau tak
keberatan, aku ingin kita tetap seperti ini. Kau boleh melupakan dulu
perasaanku padamu. Kita seperti teman biasa saja’. Aku menghela nafas, ‘Aku pun
ingin kita tetap seperti ini, tapi.. itu pasti sulit sekali’ aku memang tak
terlalu yakin. Aku menghela nafas panjang sekali lagi, ‘Kenapa sih, banyak
sekali badai yang menghadang?’. Dia hanya tersenyum, ‘Dengarkan aku, setelah
badai itu ada hujan, dan setelah hujan itu ada pelangi. Kalau kita bisa melewati
keduanya, kita pasti akan melihat pelangi’. Aku pun ikut tersenyum. ‘Asal
engkau tau, aku sangat senang bisa mengenalmu, bicara denganmu.. seperti ini’
ucapnya spontan, masih dengan senyum yang sama. Aku semakin melebarkan
senyumku.
Lazuardi, lekaslah kirim pelangimu untukku.
***
Hujan
rintik-rintik masih membasahi pekarangan rumahku. Dingin. Dan sendirian. Aku
harap ini takkan lama. Aku benar-benar ingin menyelesaikan semua ini. Aku sudah
muak. Aku benci dengan keadaan ini. Aku masih memeluk lututku, sampai suara bel
rumahku berdenting. Aku pun beranjak dengan ogah-ogahan, siapa pula yang datang
di pagi dingin dan hujan begini. Segera kubukakan pintu untuk orang nekat
tersebut.
Ternyata
dia. Si pemilik triplek. Ya, sahabatku. Aku langsung mempersilahkannya masuk,
walau sebenarnya aku sedang malas membicarakan –hal entah apa itu— sesuatu yang
menyangkut perasaannya –dia bilang sih perasaan kita—.‘Aku
sudah bercerita padanya’ gumamnya tiba-tiba. Aku sontak bingung. ‘kau... cerita
apa padanya?’. Dia tak menjawabku. Malah mengedarkan pandangan ke arah
lain. Tampaknya sedang menyembunyikan
raut muram di wajahnya. ‘Aku pun sudah berbicara padanya’ Aku mengambil nafas
kecil ‘Dia ingin hubungan aku dan dia tetap seperti sekarang, maksudku...
kita.. berteman seperti biasa, dan.. dia memintaku untuk melupakan perasaannya.
Hmm?’ Ucapku jujur.
Aku memang tak berbakat menyembunyikan sesuatu. Ku harap
dia mengerti, tapi sepertinya wajahnya semakin muram. Aku jadi sedikit
khawatir, ‘Kau.. baik-baik saja? Apa kau keberatan?’ Tanyaku hati hati. Dia
hanya menunduk, wajahnya sedikit memerah, tapi semakin muram. Akhirnya sesuatu
seperti air menetesi rok nya. Oh, dia menangis. ‘Aku... Aku keberatan’.Aku
terdiam. Mencerna kata-katanya. Aku harap aku salah dengar, ‘Jadi.. kau...
keberatan?’ tanyaku lagi. ‘maafkan aku, tapi aku sudah lelah dengan semua ini,
aku sudah lelah menahan segala sakit ini. Maaf, kali ini aku hanya ingin jujur’
Jawabnya lirih.
Kuusap perlahan tetesan air yang kian deras dari pelupuk
matanya. ‘Sudahlah, aku mengerti. Aku tak akan mengganggu kalian lagi. Sungguh,
aku akan menjauhinya’ Aku tak tahu apa yang tadi aku ucapkan, tapi semoga saja
aku bisa membuatnya berhenti menangis. Dia mulai menegakkan kepalanya, mungkin
berusaha tegar. ‘Aku tahu kau menyayanginya’ perasaanku bergetar cepat. Tapi
segera ku atasi dengan senyuman yang aku harap bisa diartikan sebagai
keikhlasan olehnya. ‘Apa kau sadar apa yang kau ucapkan’ mungkin dia masih
tidak yakin dengan sorot mataku. Aku mengambil nafas panjang, ‘Lagipula, kau
tak memberiku pilihan lain kan?’. ‘Iya juga sih’ Ujarnya pelan. Aku tak tahu
apa aku akan benar-benar melakukannya.
***
Ting-tong!
Siapa
pula yang datang? Segera kubenahi rambutku di depan cermin. Setidaknya aku
tidak akan membuat tamuku kabur melihat wajah berantakan –ditambah rambut
berantakan pula—. Aku pun segera menghampiri knop pintu dan melihat siapa yang
ada di baliknya.
Hening.Dia.
Sosok itu. Menatapku kosong. Aku yakin waktu sedang berhenti sekarang.
***
‘Aku
tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang’ Jawabnya, menatap langit-langit
rumahku. Dia kelihatan sedikit frustasi. Aku menatapnya, sebenarnya aku tidak
ingin membuatnya bingung, tapi aku tidak bisa menyembunyikan hal ini darinya.
‘Mungkin kau pernah memberikannya harapan, maksudku..’. Dia menghela nafas
berat. ‘Apa orang secuek aku masih saja dibilang
pemberi harapan palsu?’. ‘Yah, kupikir.. bisa saja kan?’‘Bagaimana hubungan kalian sekarang?
Kau dan.. temanmu itu?’ Aku terdiam sejenak. Aku bingung.‘Emm, kita baik baik saja kok’ Jawabku
Sial, sekarang dia menatapku. ‘Kalau
soal kita?’Aku tak berani menatapnya balik.
Sungguh, aku tidak tahu.
***
Sejak
saat itu, dia tak pernah terlihat dimanapun. Rumahnya, tempatnya biasa
menyendiri. Semua nihil. Aku tak bisa menemukannya. Sekarang yang aku bisa
lakukan hanya membenahi hubunganku dengan sahabatku. Mengisi waktu luang dengan
menyibukkan diri, dan.. yah seperti ini. Mungkin hal yang terbaik untuk dipilih
adalah tidak memilih apapun. Mungkin untuk sementara waktu, aku butuh untuk
memahami diriku sendiri. memikirkan diriku sendiri. dan membenahi semuanya.
Menarik nafas panjang, berusaha kembali rileks dengan kehidupanku. Aku akan
bahagia pada akhirnya, pasti.Hari
hari selanjutnya, selalu seperti ini. Tak ada yang spesial. Biasa saja, malah
semakin buruk.
Dia, sosok itu sepertinya terlalu pusing untuk mengurusi masalah
kami. Dia memutuskan untuk meninggalkanku dan memintaku untuk mencari orang
lain. Hubungan yang sudah mencapai titik jenuh. Aku pun sama pusingnya haha, tolong lazuardi, katakan
padanya. Ketika aku berusaha memperjuangkan, dia memilih untuk menyerah.
Yasudahlah. Sekarang sudah lebih dari 21 hari sejak aku pertama kali menulis
ini untukmu. Aku bertemu dengannya di sekolah, seperti biasa, tidak ada hal-hal
yang kita perbincangkan. Seperti dua orang yang tidak saling mengenal.
Yah, we
are not friend, we are not enemy, maybe we just stranger with some memories-_-.
Sekarang sudah bulan september, guess what? Sudah hampir setahun aku ‘mengenal’
nya. Sekarang.. huft. Sudah terlalu lelah untuk kita pikirkan apa dan
bagaimana. Mungkin vakum untuk beberapa waktu, atau mungkin selamanya.
Lazuardi, terimakasih sudah mendengar ceritaku. Haha kau tau aku terlalu banyak
mengkhayal, mungkin sosok itu juga sedang membaca bagian suratku ini. Oh iya,
kau tahu kan begitu banyak unsur-unsur tidak nyata dalam surat ini. Harap
dimaklumi ya haha dan jangan anggap aku gila. Terimakasih untuk begitu banyak
inspirasi.
Tertanda,
Astika
Septiani