Senin, 18 Februari 2019

Menulis Lagi

Ada keinginan untuk menulis lagi, entah sejak kapan. 

Mungkin lama sekali, tapi selalu tertunda. Tapi ada yang mengejutkan! Sepertinya, aku akan menanggalkan "Lazuardi". Haha. Sejujurnya, aku pun bingung mau menulis apa, berhubung sangat sangat sangat banyak yang bermunculan di kepala. Tapi, setidaknya mulai dulu bukan?

Mungkin akan share beberapa tips kehidupan, curhat, tentang kerjaan, kuliah (seperti sub-judulku ya, The diary of mine). Mungkin review film, review novel, pokonya tempat sampahku aja deh ya. Tapi untuk puisi lagi, kayaknya engga deh ya... entah kemana itu "bakat" merangkai kata. Kayak nya raib aja deh, bahkan dulu suka gambar, sekarang tangan sudah kaku haha.

Banyak yang mau diungkapkan, tapi tidak tahu harus dibuang kemana. So, ya! lets get started ya, gatau kapan. Maunya sih terkonsep haha. tap sekali lagi, no puisi menye menye like before ya, sungguh aku geli sendiri deh lihatnya. bahasa juga nyaman aja deh, gimana mood ya haha.

Oh ya, aku juga mengubah tema blog ini nih... haha tapi kok jadi terkesan "gelap" ya. Aku udah otak-atik tema nya, tapi tidak tau kenapa juga ga ada yang "pas" sesuai hati. Mungkin nanti kalo ada inspirasi lagi, akan ku ubah jadi lebih terang dan soft gitu ya (maklum baru sekarang ku utak-atik lagi) aku lupa deh gimana caranya.

Update : temanya sudah kuganti jadi lebih bright-soft gitu, semoga suka!

Sekali lagi , yang penting mulai dulu ya!

Okey, sekian dulu!
-Selamat Beraktifitas, AS-

Selasa, 03 November 2015

Untuk Embun Pagiku

Kurangkaikan bunga-bunga itu untukmu, sayang. Sebagai tanda bukti benih mawar merah yang kutanam depan rumahmu. Kupilihkan mawar-mawar terbaik untukmu, yang paling wangi juga segar. Supaya bisa kutebus hati yang mahal itu, untuk kumiliki dan kujadikan teman tidurku sepanjang hayat.

Seperti embun pagi yang dingin kau datang mengingatkanku bahwa hari ini akan indah. Kau datang laksana air di ujung daun pertanda alam itu hidup. Aku sadar dirimu adalah seraut wajah indahnya alam raya. Terimakasih untuk membangkitkan asaku dihari esok.

Kau memberi tahuku, bahwa hari ini adalah hadiah teragung untuk aku yang berjuang hampir mati kemarin. Dan atau kesempatan kedua untuknya yang tidak sengaja melepas emas ke lautan. Terimakasih telah menyadarkan bahwa air hujan pun masih sudi membasahi tanah subur negeriku.

Kau mengingatkanku untuk berlari kencang selagi masih digaris depan, dan merasakan nikmatnya berjuang habis-habisan demi ucapan selamat sukses darimu.

Kau mengingatkanku untuk melahap sekurang-kurangnya satu piring kebahagian setiap menjelang sore, dan menikmatinya sambil melepas semua toksin-toksin menyebalkan yang masih melekat dalam keringat.

Kau jugalah yang membelai mesra rambut lepekku sambil menyanyikan nina bobo dalam bahasamu.

Hingga aku terlelap dan memimpikanmu sampai tidak mau bangun lagi.

Satu yang kuingin peringatkan padamu, tolong jangan pernah buat aku lepas dari peluk hangatmu di malam hari. Setiap malam sampai malam keseribu, atau mungkin lebih, nyanyikan lah ninabobo itu lagi sampai kau lupa dan pikun akan nada lagunya.

Aku tidak mau sebentar bersamamu. Bahagiaku kini kau genggam erat, tolong simpan dihatimu.




Dariku,

Untuk embun pagiku.

Minggu, 01 November 2015



Sabarlah cintaku,
Jalan masih panjang, Pasir laut yang jatuh sebutir-sebutir di jam itu tak perlulah kau hitung lama habisnya. Aku ingin menanti, menunggu dengan sabar, menikmati detik demi detiknya sampai habis. Juga menikmati setiap senyum dan canda yang mengukir di hati menjadi sebentuk kenangan yang takan bisa terhapus. Bahkan menikmati setiap tetes air mata yang luruh ketika kusenderi pundakmu yang letih itu.

Sabarlah cintaku,
Detik-detik yang berlalu biarlah jadi perekat genggaman kita, mengantarkan kita pada singgasana abadi didepan sana. Menduduki tahta agung yang hanya kita berdua saja yang tahu. Biarlah semua itu datang, menyergap hingga kita tak mampu lagi merapal doa-doa malam kita. Biarlah detik yang habis nantinya jadi bukti bahwa kita bisa mengalahkan sang waktu.

Sabarlah cintaku,
Kita lebih kuat dari apapun itu, lebih tegar dari karang dilautan, dan lebih kokoh dari gedung pencakar langit. Jarak biarlah jadi sahabat kita, jadikan dia bukti bahwa hati kita lebih kuat dari ribuan mil yang kau tempuh untuk menggapai mimpi. Biar alam raya pun takjub lalu menunduk mendoakan kita dan merangkul raga kita selamanya.

Minggu, 18 Oktober 2015



Hello !

Senang bertemu kamu lagi, langitku! Maaf begitu lama menghilang, aku datang kesini lagi hanya ingin memperkenalkan seseorang yang kini sedang menabur benih mawar merah di kebun rumahku. Aku bingung menyebutnya apa, tapi dia adalah rangkuman dari seluruh ucap doaku dipagi hari, dan obat untuk rintih perihku di malam sunyi. Dulu memang aku sempat memimpikan membuat sebentuk pelangi bersama sang bagaskara -yang sekarang entah dimana- di kanvas raksasa nan indah, yaitu kamu, langitku. Tapi malah badai besar yang ia berikan dan langitku begitu gelap dan sunyi seperti ladang kematian.

Kini bagaskara itu datang lagi, tapi dengan wujud yang berbeda.

Bukan, bukan yang dulu mengecewakanku dengan skandal perselingkuhannya dengan laut-laut di bumi, kini tahta galaksi mu sudah berganti. Kita sebut saja sosok ini mentari. Dia mentariku.

Mentariku jauh lebih hangat, lebih penuh rasa cinta, tidak seperti bagaskara. Dia yang menguasai kerajaan ini sekarang, dia yang bertugas begitu lihai tau kapan menyejukkan tau kapan menghangatkan. Dia begitu menjiwai setiap langkah yang dia tapakkan untuk menghampiriku. Setiap derapnya yang menggemparkan hati tak pernah bisa membuat bosan. Seluruh bintang pun memujanya setulus hati.

Langit, aku meminta ijin padamu untuk membiarkan dia tinggal dan akan kubagi setiap hari kehangatannya untukmu langitku. Buatlah dia selalu bahagia dengan tugasnya, dan bantulah kami menyusuri tiap langkah menuju keabadian yang sesungguhnya. Aku tahu ini bukanlah kuasamu, tapi tolong aku sampaikan pada-Nya.

Aku tidak bisa begitu egois untuk meminta dia , Mentariku , untuk menghangatkan hidupku selamanya. Tapi dengan segenap hati, aku ingin bilang bahwa aku benar-benar menikmati hangat sinarnya. Aku tak percaya sekarang aku begitu mudahnya dibuat bahagia.

Terimakasih untuk semua waktu yang selalu engkau berikan langitku, jangan lupa sampaikan doa ku
kepada-Nya. dan, sampaikan juga segenap salamku untuk mentariku.

Senang melihatmu begitu cerah.



Dariku,

Lazuardi



Jumat, 14 Maret 2014

Salah Paham

Aku tidak mengerti
Aku tidak akan mengerti
Selamanya aku akan salah paham
Aku bukan orang yang tepat untukmu
Aku terlalu bodoh

Aku tidak mengerti mengapa kau tidak mengerti juga
Aku terlalu jauh bagi dewa sepertimu
Aku amoeba
Aku tidak mengerti

Aku tidak mengerti Tidakkah kau ingin mengajariku
Agar aku tidak terbodohi lagi olehmu Rasanya sakit sekali jika kau ingin tau

Aku menutup mata
Kau kejam
Kau badai dan aku gulita malam
Aku akan terus gelap sampai matahari menghentikanmu Sampai kau tertawakan aku yang porak poranda

Setiap denyut jantungku terasa sakit. Tiap kali berdenyut rasa sakit itu makin menggila. Aahhh rasanya ingin mati saja.
TIDAK!! Aku tidak boleh mati. Tidak dalam keadaan seperti ini. Setidaknya aku masih harus merajut sayap untukku terbang nanti. Agar aku bisa menggentanyangi hidupmu. Dan menjadikan seluruhnya mimpi buruk bagimu.

Putus Asa



Ada titik air dari langit
Sebening mata gunung
Ada titik air jatuh merasuk jiwa bumi
Runtuh
Langit telah runtuh

Dimana kaki ini akan berpijak lagi?
Jika bahkan bumi saja sudah terbang menyatu dengan langit
Rusak
Rusak semua yang tertata



Aku ada
Disini


Mata yang terkatup rapat
Membendung air bah yang segera tumpah
Kaki yang terpancang kaku tanpa pijakan
Hanya tingga tulang raga yang rapuh dan akan hancur

Lapuk seperti tongkat musa yang dimakan rayap
Perlahan menjemput hades


Apalah artinya kehidupan?
Haruskah diakhiri sesebentar ini?

Selasa, 05 November 2013

Repost

Butuh keberanian super duper buat kasih liat ini ke kamu. Terutama buat yang ke dua kalinya aku post. kalo kamu lagi baca ini, artinya kamu bakal ketemu sama dunia aneh aku beserta rentetan kejadian imajiner yang cuma berlaku di alam khayal aku. Makasih udah mau baca:)

Note: Anggap aja kamu lagi baca cerpen orang atau apa, jangan coba-coba nyambungin sama kenyataan haha soalnya bakal sangat memalukan buat aku -_-



Kepada Lazuardi                                                                                                                           
di

Kilometer 956, lapis ke-7


Bumi, 23 Juni 2013



Selamat malam,

Hai Lazuardi, apa kabar? lama tak menjumpaimu. Lama juga tak mendengar ocehanmu. Aku tahu kau sibuk akhir-akhir ini. Maafkan aku yang lancang meminjam waktu istirahatmu. Kuharap kau tidak marah.

Dear Lazuardi, Kau sedang apa? Hei jangan menatapku dengan tatapan iba seperti itu dong. Aku baik-baik saja kok. Sungguh. Apa? Kau bilang aku munafik? Raut wajah? Apa yang salah? Aku masih bisa tersenyum.

     
Oke, setidaknya sekarang.Ini masih tanggal 23. Oke, berarti masih tersisa 21 hari lagi. 21 hari untuk apa? Bukankah itu tiga minggu lagi? Ya, hari itu adalah hari dimana  aku masuk sekolah lagi. Tercatat sebagai siswi kelas dua belas, yang berarti sebentar lagi akan masuk ke dunia yang baru. Dunia yang sebenarnya.

Well, aku sebenarnya bukan rindu sekolah. Malah aku sangat penat,bosan, dan lelah. Ketika kau pikir mustinya aku mulai serius memikirkan dimana aku harus les, apakah aku akan lulus, apakah aku bisa mengerjakan soal UN nanti, atau dimana aku akan kuliah. Huh, kau tau? Aku sudah memikirkannya dari setahun yang lalu. Dan aku masih belum yakin pada diriku sendiri-_-Hmmm aku ingin minta waktu sedikit lagi, aku ingin break dulu memikirkan itu. Aku ingin merasakan jadi –remaja-labil-yang-menunggu-waktu-beberapa-bulan-menuju-tujuh-belas-tahun—. Aku memang belum tujuh belas, tapi bukannya tak ingin, justru aku sangat ingin. Tapi aku juga ingin mengisi sedikit waktu yang tersisa, sedikit saja. Boleh ya?


Oke, tadi kubilang aku bukan rindu sekolah, lalu apa? Mungkin bisa kau tebak. Ya. Aku rindu salah satu siswanya. Tunggu, apa tadi aku bilang rindu? Apa?? Dari tadi aku bilang rindu?Well, aku tidak tahu apa aku pantas merindukannya. Aku juga tidak tahu apa dia merindukan aku atau tidak. Tapi aku tidak mau tahu. Yang jelas, hati tidak pernah bisa berbohong. Meskipun kau diancam untuk terjun ke jurang, atau menusuk jarimu dengan pisau, tetap saja tak ada yang bisa merubah kata hati. Dia akan bersikeras, dia akan jujur, hingga kau menyerah pada akhirnya.


Ini baru terhitung 3 hari sejak pesan singkat terakhir yang dia kirim. Aku terakhir melihatnya tanggak 17 Juni 2013, berarti baru 6 hari yang lalu. Sangat berlebihan bukan jika aku merindukannya?. Mungkin kau pikir, apa susahnya mengetik “Haii” ke nomor ponselnya. Lalu duduk manis hingga dia pun menjawab “Haii juga”. Selanjutnya aku akan seperti orang gila menertawakan ponselku sendiri (setidaknya itu yang orang tuaku katakan).Tentu itu akan sangat mudah, bila saja keadaannya bukan seperti sekarang. Bila saja disini hanya tertulis ‘kita’, atau ‘aku dan kamu’. Bukan ‘aku, kamu, dan dia’. Malah lebih parah. ‘aku, kamu, dan mereka’. Konyol sekali bukan?


Bukan, aku bukannya merindukan orang lain selain dia. Bukan juga dia yang merindukan orang lain dan pergi meninggalkan aku. Bukan kita. Lalu siapa? Dia.... temanku sendiri.Yah kau boleh anggap aku gila. Brengsek. Penghianat. Tukang makan teman. Tukang tusuk dari belakang. Atau semacamnya. Karena aku telah melakukan kesalahan besar, aku telah menghancurkan harapan temanku sendiri. Harapan yang telah ia bangun susah payah. Tembok kokoh yang dibangunnya diam diam tanpa sepengetahuanku. Berdiri kokoh dihadapanku. Berusaha menutupi pandanganku kepadanya, kepada orang yang sedang aku rindukan.


Dulu temanku bilang, benteng itu bukan tembok. Hanya triplek tipis yang sewaktu waktu tertiup angin dan hilang. Ketika aku tanya, ‘Dapatkah aku merengkuh seseorang diseberang sana? Yang kau tutupi dengan triplek tipismu?’. Dan dia menjawab dengan anggukan dan senyum, ‘Kau boleh mendekatinya sesukamu, tembokku kokohku bukan untuk menutupinya, ku kira kau tahu siapa yang ku maksud’. ‘Aku tau kau tidak akan menghancurkan tembok itu,apalagi mengantikannya dengan sehelai triplek usang, kau sudah membangunnya dengan susah payah’ jawabku sambil menatapnya, dia menatapku balik, mempelajari lensa mataku. Kusingkirkan triplek itu pelan pelan. Dan melangkah mendekati sosok dibaliknya.


***


Hari demi hari aku selalu mengagumi, memperhatikan, sosok itu. Sosok yang dulu berada dibalik triplek milik temanku. Sosok yang kini berada di hadapanku. Melempar senyum, dan tertawa bersamaku. Aku selalu menceritakan sosoknya pada teman-temanku, termasuk pada si pemilik triplek. Dia bilang, dia bahagia melihat aku dan sosok indah itu bersanding. Aku pun semakin yakin, dia telah membuang triplek itu, karena tak kulihat itu dimana pun. Bahkan dia berani membesarkan harapanku, dia mendukungku untuk mencintai sosok itu.Sosok itu kini semakin membuatku penasaran.

 Aku tak pernah menyesal sudah mengenalnya. Aku selalu mengunjungi rumahnya, bercengkrama di terasnya yang sejuk dan sederhana. Membicarakan ini itu, menertawakan ini itu, aku sangat nyaman berada di dekatnya. Bahkan kadang dia yang mengunjungi rumahku. Lalu kami akan menyesap teh panas pelan pelan sambil mengagumimu di beranda rumahku. Bahkan aku bisa merasakan teh tawarku perlahan lahan menyisakan rasa manis di lidahku, ketika disaat yang bersamaan aku melihat senyumnya saat menatapku. Dan kamu, benar benar mengerti dimana harus menampakkan berlian berlian indah itu, saat kau pelan pelan membentangkan tirai hitammu. Dan bulan pun datang menjadi diva di malam itu, memamerkan cahaya pinjamannya dari matahari. Sungguh luar biasa.


***

Di suatu pagi yang cerah, seperti biasa, aku mengunjunginya, membawakan beberapa kue kering kesukaannya. Ketika aku sampai di halaman rumahnya, kulihat bongkahan batu berserakan. Dia sedang menatap batu batu itu dengan tatapan yang tak ku mengerti. Aku bertanya padanya, ‘dari mana datangnya batu-batu ini?’. Dia hanya menjawab sekenanya ‘entahlah, sepertinya ada yang akan membuat pagar di sebrang sana’. ‘pagar? Apa nanti aku masih bisa mengunjungimu? Ucapku penuh harap. ‘aku tidak tau’ jawabnya sambil berlalu. Aku pun terpaku menatap punggungnya.


***

Sudah hampir seminggu aku tidak mendengar kabar sosok itu, mungkin dia sakit. Aku pun memutuskan untuk menjenguknya, sambil membawa beberapa buah apel dan pear kesukaannya. Aku pun berjalan menyusuri jembatan kecil, melewati sungai sungai dangkal, seperti biasa aku mengunjunginya.Tapi jalan yang kutelusuri malah membawaku ke sebuah bangunan maha megah yang berpagar tinggi. Pagarnya ditutupi mika hitam, sehingga aku tak bisa mengintip siapa pemilik rumah indah ini.


Sudahlah, tak apa. Lagipula aku tidak peduli siapa yang mendiami rumah megah itu, toh aku tidak mengenalnya. Tujuanku kesini adalah mengunjungi sosok yang ku rindukan, lalu aku pun melanjutkan perjalanan ku melewati rumah itu. Menyusuri pepohonan, belukar rendah. Seharusnya disini. Tapi kenapa aku tak menemukannya? Mana mungkin aku lupa? Baru seminggu yang lalu aku mengunjunginya. Kucoba mengingat-ingat lagi. Apa aku salah jalan? Ku telusuri lagi hati hati. Tidak ada. Tidak ada rumah lain di tempat ini. Hanya ada rumah megah itu. 


Hatiku mulai geram, apa iya pemilik rumah ini begitu sombong sampai menghancurkan rumah pujaanku? Memindahkannya ke tempat lain? Aku harus meminta penjelasannya.Aku berdiri di depan rumah megah ini. Menatapnya geram, sambil mencari cari tombol yang layak disebut bel. Oh sial, rumah ‘jelek’ ini bahkan tidak memiliki bel. Apa pemilik ini tak pernah mengenal istilah tamu atau kunjungan? Pastilah dia sangat angkuh hingga tak pernah ada yang berniat menyinggahi rumahnya.  Aku sungguh sungguh kehabisan akal, hingga ku temui celah kecil di pagarnya. Bagian yang tak tertutup mika. Kurasa, aku bisa melupakan sebentar ajaran sopan santun dari ibuku, dan mulai merundukan kepalaku untuk mengintip apa yang ada balik pagar tinggi ini. Bahkan mungkin akan meneriakinya apabila kutemukan manusia disana.


Mataku terus bergerak gerak liar. Berjaga kalau kalau saja ada yang menarik. Dan ya.. ternyata usahaku tak sia sia, ada dua orang yang sedang bercengkrama di sebuah taman cantik. Sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang sangat menarik, sesekali bahkan terdengar samar gelak tawa renyah diselasela percakapan mereka. Seseorang yang sedang menghadap ke arahku, adalah seorang gadis cantik bermata coklat,dengan gaun putih layaknya bidadari. Menggenggam setangkai mawar dan menghirupnya pelan pelan. 


Dihadapannya, seorang lelaki berpostur tinggi, sedang menjelaskan sesuatu dengan semangat. Entah kenapa sepertinya lelaki itu memiliki bahu yang kokoh, seperti aku mengenalnya. Dan ketika mulutku baru saja akan terbuka untuk meneriaki mereka –aku baru sadar aku malah memperhatikan mereka—, lelaki itu memalingkan wajah sehingga sebagian wajahnya terlihat dari posisiku. 


Mulutku seketika terkatup. Aku baru sadar, ternyata adalah dia sosok yang ku cari. Yang sedang bercengkrama dengan bidadari. Yang membangun pagar yang digembok erat. Yang sepertinya tidak menginginkan aku datang. Ku remas erat erat keranjang apel yang sedari tadi kubawa. Mataku memanas seketika, aku baru sadar bahuku terguncang hebat sedari tadi. Aku masih terpaku disana, menyandarkan punggungku pada pagar tinggi itu. Melorotkan tubuhku hingga sekarang aku malah berjongkok sambil menatap buah buah malang ini. Tidak, aku lebih malang. Aku tidak diinginkan.


Kau tidak menghiburku Lazuardi. Kau malah memerintahkan mega untuk menangisiku. Apa sepayah itukah aku? Tolong jangan buat aku semakin menyedihkan. Air mata kumpulan mega itu kini membasahi wajahku, juga tubuhku. Aku pun menengadahkan kepalaku, menatapmu hingga air mataku bercampur dengan air mata sang mega. Namun kau diam dan membisu. Hingga aku pun menyeret langkah untuk kembali ke rumahku. Now, look how pathetic I am.


***


Sisa sisa hujan masih terasa, bau aroma tanah basah dan dedaunan yang meneteskan air mata mega masih melakukan rutinitasnya. Dingin. Hujan telah usai, tapi matahari pun tak membuat semuanya jadi hangat. Aku menangis di bahu sahabatku, si pemilik triplek. 


Dia membelai rambutku pelan pelan. Tersirat dari sorot matanya ‘semua akan baik baik saja’. Dan aku percaya padanya. Ya, semua akan baik baik saja. Semoga begitu. Dia selalu menghiburku di saat saat seperti ini, membiarkanku menghirup uap lembut teh panas yang dia sediakan untuk menghadiahi kunjunganku. Yang bersedia mendengarkan suara hatiku dan semua residu rasa yang tersisa. Diam-diam aku sangat berterimakasih padanya. Dia sangat memahami perasaanku.


***


Sudah 2 musim beranjak meninggalkanku, tak terasa. Aku sudah terbiasa dengan ketidakhadiran sosok itu, aku sudah bisa tersenyum. Walau diam diam aku juga merindukannya. Sketsa yang dulu berisi lukisan sosoknya dan harapanku kini sudah penuh dengan coretan, sobek sana sini, dan bercak air mata yang sudah mengering. Aku ingin melupakannya. Aku ingin menghapus sosoknya dari semua buku sketsa ku. 


Aku memaksa diriku sendiri untuk membencinya.Dan ternyata waktu sudah berbaik hati membantu menyembuhkan luka.  Aku pikir aku mulai melupakannya. Mulai melihat dunia dari sisi lain. Kini senyumku benar-benar senyum. Kini aku sudah bisa merasakan matahari. Hangatnya. Terang sinarnya. Hujan tak turun selamanya. Tuhan telah berbaik hati telah memberikan uluran tangan-Nya. Membiarkan matahari menepis hujan yang mulai menipis.


***            
Hujan memang sudah menipis. Kabut telah pergi. Matahari juga menemani. Tapi pelangi hanya datang sesaat. Hangatnya matahari memang bukan untuk aku nikmati lama lama. Rasa hangat itu terbang terbawa angin. Aku kedinginan. Dan rasa sepi menyergap perlahan di sudut sudut hati. Aku sendirian lagi.            

Aku ingin sekali membunuh sepi. Mengusir penat dan meminjam pelangi sebentar saja. Aku memutuskan pergi sebentar saja. Ke Pantai, atau ke taman. Sendiri saja. Tanpa siapapun.            


Aku memulai perjalananku. Aku ingin bertualang. Aku baru sadar aku sudah lama tak memiliki waktu untuk diriku sendiri. Aku menyusuri hutan, jalan raya, sungai-sungai panjang, jembatan.. betapa indahnya kesendirian. Dalam perjalananku, aku melewati lembah tempat kediaman sosok itu. Aku melihat rumah barunya dari jauh, masih tetap indah. Walau terlihat agak sepi. Aku tidak berniat mendekatinya, apalagi berkunjung. Aku pun melanjutkan perjalananku, berusaha tak memperdulikan rumahnya, dan penghuninya.            


Aku bertemu beberapa orang disana. Tapi aku terus berjalan. Sebagian menatapku aneh, aku tidak mengerti. Kalian ini kenapa?. Aku bahkan bertemu beberapa temanmu, aku melempar senyum, mereka temanku juga. Beberapa dari mereka tersenyum balik, yang lainnya sibuk membicarakan sesuatu. Berbisik bisik sambil menatap ke arahku. Ingin rasanya aku teriaki ‘Hei, apa yang kalian bicarakan? Apa ada yang salah denganku?’. Tapi ku urungkan niatku sambil berkata dalam hati ‘siapa peduli?’. Lalu kulanjutkan perjalanku. Aku tak peduli!            


Tapi sorot mata dan bisikan mereka lama-lama membuatku tak tahan. Aku terus berjalan, menunduk. Langkahku semakin cepat. Aku ingin cepat-cepat keluar dari lembah ini. Aku sangat tidak nyaman. BRAAK!!. Kurasakan tubuhku sendiri menabrak sesuatu yang kuat. Tidak, bukan sesuatu. Ternyata seseorang. Aku pun tersungkur dipangkuan tanah. Lalu menengadah melihat manusia sial yang menghalangi jalanku. Kurasa pengelihatanku salah. Dia? Seseorang itu?. Sosok yang membuatmu menurunkan hujan. Yang pernah ku rindukan. Yang harus bertanggung jawab atas porak porandanya perasaan. ‘Kau?’ ucapnya, tampak kaget melihat kehadiranku yang mungkin tak terpikirkan olehnya. ‘Apa?’ jawabku sambil menatapnya. ‘Emm maafkan aku, sini, biar ku bantu’ katanya sambil menyodorkan tangannya di hadapanku. Aku menatap lengan itu, jemarinya, terulur di depan mataku. Dia menatap ku, lalu menyodorkan kembali tangannya. 


Aku menerimanya dengan canggung. Lalu bangkit dihadapannya. Suasana mendadak sangat alot. Canggung.Beberapa orang memerhatikan kami. Aku menatap mereka balik, berusaha memberi tatapan ‘Whats wrong?’. Mereka masih menonton kami. Aku tidak mengerti, sampai aku baru sadar aku mengacuhkan sosok dihadapanku. ‘Hei apa kau mendengarku?’ ucapnya sambil menggerak gerakan tangannya di depan wajahku, berusaha mencuri perhatianku. ‘Kau mau kemana?’ tanyanya lembut. ‘Eh?, aku baru sadar sedari tadi dia berbicara. ‘Apa katamu?’. ‘Kau mau kemana sendirian?’ dia mengulangi lagi pertanyaannya. ‘Kau tak perlu tahu’ jawabku singkat. 


Aku baru mulai beranjak lagi, memunguti barang-barangku yang berserakan di tanah karena jatuh tadi. Dia malah membantuku membereskan barang-barangku. Aku masih merasa tak nyaman dengan tatapan orang-orang disekitarku. Sampai aku menangkap sebuah tatapan tak wajar. Tatapan milik mata coklat yang kelihatan tidak sehat. Sembab. Aku baru menyadari milik siapa mata sembab itu. Dia bidadari yang ku lihat di taman rumah sosok pujaanku. Dia menatapku tak suka, dan aku makin jengah ditatap seperti itu. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini.


***          

  Aku menghentakan langkah-langkah kecilku. ‘Hei, apa yang kau lakukan? Jangan mengikutiku!’ucapku dengan nada ketus. Bukannya berhenti, sosok di belakangku malah tertawa melihat bibirku yang mengerucut. ‘Kau mau kemana?’ Tanyanya tanpa memerdulikan sikapku yang risih dengan kehadirannya. ‘Bukan urusanmu!’ Jawabku sambil mempercepat langkah. ‘Hey itu urusanku, tak ada yang menjagamu jika kau pergi sendiri, diluar sana sangat berbahaya’ Jawabnya dengan tatapan serius. ‘Apa pedulimu? Aku bisa menjaga diriku sendiri’ Jawabku , balik menatapnya menantang. Dia hanya diam dan tersenyum. Dan aku tak bisa berbuat apa apa lagi selain berusaha tak memerdulikannya, dan mengenyahkan gejolak hati yang tak tau diri muncul disaat seperti ini.           


 Aku terus berjalan tak tentu arah. Kamu malah memperlihatkan awan hitammu, juga cahaya putih supercepat diantaranya. Kau menyebalkan. Sesuatu yang dingin pecah dan mengalir di ujung hidungku, hal yang sama juga terjadi di pipi, lalu di rambutku. Semakin lama semakin sering, tapi tiba tiba saja berhenti dan udara disekitarku menjadi hangat. ‘Tuh kubilang juga apa’. Aku menengadah menuju tatapan hangat orang yang berada disampingku, ‘Hei ini hanya hujan’. Dia tidak mendengarku, malah sibuk membenarkan posisi jaketnya yang melorot karena bahuku terlalu kecil untuk ukuran jaketnya. Dia menjaganya agar tidak jatuh. Dia merangkul bahuku.            


Aku bisa melihat bulir-bulir air yang jatuh dari hidungnya. Juga gemeretak giginya yang kedinginan. ‘Kau kedinginan?’ tanyaku, aku tidak tega melihat wajah pucatnya. ‘Tidak, aku tidak apa-apa’ Dia menepis dengan senyum yang agak dipaksakan. ‘Bohong. Sebaiknya kita menepi’ jawabku sambil mencari tempat untuk berteduh. Kita memelankan langkah. Dan tangannya tiba-tiba menarikku ke sebuah tempat. Kita berhenti di sebuah rumah kosong yang tampaknya cukup hangat. Rumah kayu itu tampaknya sudah lama tak berpenghuni, dilihat dari kayu kayunya yang sudah lapuk dan sulaman jaring laba-laba di atapnya. ‘Tempat ini cukup hangat, kita bisa menunggu sampai hujan reda dan melanjutkan perjalanan’ Ucapnya dengan bibir bergetar, rupanya dia sangat kedinginan. ‘mmm.. tapi aku sudah tak berniat melanjutkan perjalanan, kita pulang saja’ jawabku sambil menatap hujan. Dia malah menatapku, lalu menyibakkan helai rambut basah yang menutupi wajahku ‘Apa? Tapi kenapa? Apa kau tak suka aku mengikutimu? Aku.. kalau begitu aku menyesal, aku akan pergi’ wajahnya mendadak muram. Buru-buru aku mematahkan anggapannya, ‘Tidak, maksudku.. bukan begitu, aku.. aku senang kok kau temani, aku hanya rindu rumahku’ jawabku. Dia tak menjawabku. Hanya tersenyum sambil menatapku, lalu mengeratkan jaketnya yang masih memeluk tubuhku.


***            

Rinai rinai hujan sudah tinggal setitik-setitik. Aku menjulurkan telapak tanganku ke bawah ujung-ujung genting yang mengalirkan sisa-sisa air hujan. Aku selalu suka melakukan ini dari aku masih kecil. Seketika senyumku tersungging. ‘Ayo’ ujar sosok itu sambil menarik tanganku yang masih basah. Kita pun menyusuri jalanan becek sambil mengobrolkan macam-macam. Tepat seperti dulu. Kini aku bisa melihat kilauan kilauan air dari ujung rambutnya yang terpantul sinar matahari, sinar kesukaanmu. Dan kini engkau tak ragu ragu menunjukan senyummu, dalam sebentuk berkas cahaya warna-warni yang mengagumkan di bentangan tubuhmu. Terimakasih lazuardi.


***            

‘Fiuuuuuh’ lelah sekali. Tapi senyum tak henti-hentinya tersungging di wajahku. Aku sampai lupa kalau pakaian ku masih basah karena hujan tadi. Aku pun segera beranjak mandi dan berganti pakaian. Sambil mengeringkan rambutku, tak sengaja kulihat kain tebal abu-abu yang terdampar di atas sofa rumahku. Ya Tuhan, aku lupa mengembalikan jaketnya. Segera ku raih jaket itu, menyimpannya di keranjang cucianku. Aku akan mengembalikannya besok. Aku pun tersenyum, diam diam aku bersyukur aku melupakan jaket itu. Karena itu berarti, aku akan menemuinya besok.           


Esoknya, aku memasukan jaketnya ke dalam keranjangku, juga disertai kue manis yang baru kubuat tadi pagi. Masih hangat. Hari ini aku memakai baju terbaikku, rambutku yang biasanya kugerai atau kuikat asal kini kusematkan jepit rambut berbentuk pita yang sudah lama tak aku pakai. Aku tak henti-hentinya tersenyum pada diriku sendiri, mungkin jika ada seseorang yang tak sengaja melihatku, mereka akan berpikir aku tidak waras.


***           

 Aku sampai di rumahnya. Tapi kini keadaannya berubah lagi. Walaupun masih berbentuk bangunan megah, tapi kini pagarnya tidak setinggi dulu, dan yang paling mengejutkan adalah.. ada bel!. Aku tak bisa menahan diriku untuk tertawa. Lalu ku tekan saja tombol berbentuk lonceng emas di pinggir pagarnya. ‘TING TONG’. Keluar seorang lelaki bertubuh menjulang dari balik pintu. Sesegera mungkin ke sunggingkan senyum lebarku, dia pun tertawa melihatnya.            


Aku masuk ke rumahnya. Hangat. Tidak sedingin waktu pertama kali aku masuk. Pekarangannya, beranda rumahnya yang nyaman, semua berubah. Lebih terurus. Aku memerhatikan sekelilingku, tempat ini benar-benar nyaman. ‘Hei kau mau minum apa?’ teriaknya dari dapurnya yang letaknya terbuka dari ruang tamu, jadi aku bisa melihat apa yang dilakukannya. Aku pun menghampirinya, ‘Mmmm teh hangat?’. ‘Kamu dari dulu selalu meminta itu, aku punya beberapa kotak orange juice dan cokelat panas, kau mau?’ tanyanya sambil menggoyangkan kotak-kotak minuman kecil yang dikeluarkannya dari kulkas. ‘Ku pikir cokelat panas lebih baik’ jawabku yakin. ‘Oke!’ dia mengangguk setuju, dan menyiapkan panci kecil untuk menghangatkan cokelat itu.            


Aku dan dia duduk di taman kecil di pekarangan rumahnya. Sungguh, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari bunga lili putih yang menebar pesonanya di tepi kolam. ‘Jika kau mau kau boleh memetiknya satu’ Ujarnya, ternyata dari tadi dia memerhatikanku. ‘Tidak usah, aku tidak ingin menyakitinya, kurasa memandanginya seperti ini lebih baik’ ucapku sambil menyeruput cokelat panasku. Aku memejamkan mataku, lalu menghirup udara coklat panasku, ah harum sekali. Seketika terlintas di benakku wajah sang bidadari, yang beberapa waktu kulihat sedang bercengkrama di tempat yang sedang kududuki sekarang. Siapa sih dia? Seperapa spesialnya sampai dia bisa membuat seseorang disampingku menutup diri? 


‘Hei kau melamun?’ tanyanya sambil menyentuh pundakku. ‘Tidak, aku hanya sedang berfikir’ sanggahku. ‘Apa yang kau pikirkan? Jika tak keberatan, kau boleh membaginya bersamaku’. Aku terdiam sebentar, mungkin tidak apa-apa ‘Aku.. aku ingin tahu, siapa gadis itu.’ Jawabku ragu, tapi aku benar-benar ingin tahu. ‘Gadis? Maksudmu Lyra?’ jawabnya sambil mengerutkan kening. ‘gadis bermata coklat yang dulu duduk disebelahmu, seperti aku sekarang’ aku berusaha menyembunyikan wajah tak nyamanku. ‘Oh dia Lyra, dulu kami pernah saling mencintai’ sambil tersenyum, diteguknya cokelat panas sekali lagi. ‘Oh ya? Kalian memang serasi hehe, lalu sekarang? Apa kalian sedang ada masalah?’ aku tak bisa membendung rasa ingin tahuku. ‘Rasa cinta bisa saja memudar, kupikir aku dan dia tidak cocok, dan... ku rasa aku tidak bisa melupakan seseorang’ jawabnya, dia tak berani menatap mataku. ‘apa kau jatuh cinta pada gadis lain?’ aku berusaha membaca ekspresi wajahnya. ‘kurasa..’ jawabnya ambigu. ‘Itu kamu’ lanjutan ucapannya malah membuatku tercekat. Pandangan kami bertemu, dan seketika saja kau terlihat lebih biru. Hangat dan indah.


***           

Langit senja yang keunguan menatapku pasti. Terimakasih atas semua keindahan ini, lazuardi. Mungkin konyol jika aku bilang, aku jatuh cinta dua kali. Dengan orang yang sama. Atau mungkin dari dulu perasaan itu tak pernah hilang, dia ada, namun membenamkan diri entah dimana. Yang pasti, saat ini aku merasakan hal ini. Ketika keadaan hatiku mulai membaik. Jauuh dari sebelumnya.           


Sore ini, dia akan mengunjungiku. Sebentar lagi pasti datang. Aku sudah membereskan seluruh sudut ruangan rumahku, tak membiarkan sebutir debu pun bersarang. Aku sedang mematut diriku di depan cermin, ketika seseorang memencet bel rumahku. ‘Ah! Itu pasti dia!’ aku berlari kecil menuju pintu rumahku, sambil menyiapkan senyum semanis mungkin, aku pun menarik daun pintu dengan perasaan berdebar. 


PLAK!Sial! Manusia mana yang berani menamparku dirumah ku sendiri. Aku sudah melupakan sosok pangeran membawa bunga di hadapanku. Yang ada adalah tatapan paling sengit yang kusiapkan pada manusia kurang ajar ini. Aku sudah siap melempar tatapan nanar pada manusia dihadapanku, ketika justru yang kutemui adalah mata sembab dan bibir bergetar menahan marah. Milik sahabatku. Pemilik triplek. Semua kata serapahku ku telan bulat-bulat. Ku muntahkan kalimat dari bibirku dengan tertahan, ‘Kau ini kenapa?’. Bahu sahabatku itu terguncang hebat, lalu dia terduduk sambil menutupi wajahnya yang sudah banjir air mata. ‘Hei, apa masalahmu?’ aku berusaha tenang sambil menahan rasa panas di pipiku aku akibat tamparannya yang lumayan keras. ‘Apa salahku?’ tanyanya, akhirnya mulai membuka suara. Aku sedikit bingung, seharusanya aku yang bilang ‘Apa salahku?’ padanya, dia yang tiba-tiba datang kerumahku, ditambah menamparku juga. ‘salah? Maksudmu? Aku tidak mengerti’ aku memang benar-benar tak mengerti. Tatapannya semakin buas, seakan akan ingin melumat habis seluruh isi tubuhku, ‘kau memang tak mengerti. Kau tak punya hati’.


***


Aku tak punya hati? Perkataannya tempo hari benar-benar tak bisa minggat dari pikiranku. Tak pernah ada yang menyebutku seperti itu sebelumnya, terlebih sahabatku sendiri. Dia sudah mengenalku cukup lama, bisa-bisanya dia mengataiku tak punya hati. Apa pertemanan kami selama ini hanya dianggapnya sampah hingga dengan sekejap saja dia bisa meng-klaim bahwa ‘aku tidak punya hati’?. Aku tak habis pikir, aku benar-benar tak mengerti.


Pagi ini, aku akan mengunjungi sosok itu, aku ingin mencurahkan kekesalanku –juga kebingunganku—. Mungkin sedikit bisa menenangkanku, juga aku ingin menanyakan perihal ketidakhadirannya kemarin. Walau aku bersyukur juga dia tidak melihat kekacauan yang terjadi dirumahku.Aku sudah dirumahnya, kutekan tombol merbentuk lonceng emas beberapa kali. Dengan harapan si pemilik rumah cepat-cepat membukakan. Tapi rupanya daun pintunya masih belum menunjukan tanda-tanda akan bergerak. Mungkin dia belum bangun. Kuputuskan menunggu di luar, sambil diam-diam kuperhatikan arsitektur rumahnya. 


Lazuardi, ini sangat mengagumkan.Tunggu.Apa itu?Mataku tercekat begitu melihat sebilah papan kokoh terpancung di sana. Aku pun mendekatinya, ku raba pelan-pelan hingga aku dapat merasakan reliefnya yang kasar. Ini... ini triplek yang kusingkirkan dulu. Tapi.. lebih kuat, kokoh, dan terurus. Sepertinya sudah beberapa hari dipasang disini, tapi aku tidak menyadarinya. Aku terdiam. Aku menyadari sesuatu. Aku bergerak mundur dan menjauh. Aku tak tahu aku bisa sebodoh ini.


***


Aku memerhatikan foto aku dan sahabatku yang biasa terpajang di meja lampu kamarku. Aku sudah menjadi temannya dari kecil. Dan, kupikir... terlalu bodoh jika benteng persahabatan yang kita bangun lama, hancur hanya karena satu dari bagian batunya tidak cukup kokoh. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku bingung. Aku benar-benar bingung.Jadi inikah sebab dia menamparku kemarin? Karena sosok itu? Dia mencintainya lagi, atau... itu masih perasaan yang dulu?. Tunggu, bukannya dia bilang di mencintai seseorang yang berada di dekat rumahnya, yang dari dulu selalu di puja-pujanya? Yang sepertinya mencintainya juga. Apa hubungan mereka saat ini sedang tidak baik hingga sahabatku ini memutuskan untuk menyukai sosok itu. Ah, aku tidak mengerti dengan perasaannya.


Kalau iya, jika ia memang mencinta sosok itu, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menjauhinya? Mengingat dulu, memang dia yang terlebih dahulu membangun benteng. Jika aku menjauhinya, apakah sosok itu tidak akan marah padaku? Pastilah sosok itu akan merasa dipermainkan. Karena aku datang dan membuatnya senang, lalu pergi dan menghilang tanpa jejak. Tidak, aku tidak mungkin melakukan ini. Lalu aku harus apa?Aku tidak habis pikir. Padahal, dulu aku lah yang selalu ‘iri’ dengan kehidupannya. Terutama kisah cintanya. Iri disini, maksudku bukan ingin menghancurkan atau semacamnya. Aku hanya sedih karena tidak bisa memiliki kisah cinta seindah kisah-kisah miliknya. 

Jika dibandingkan dengan aku, mungkin semua orang akan memilih dia. Dia adalah gadis yang supel, ceria, pandai bicara, terbuka, punya banyak teman.. sementara aku? Aku hanya gadis pendiam, introvert,  tidak komunikatif, dan mungkin kesan pertama orang yang berkenalan dengan ku adalah ‘nerd’ atau ‘geek’ atau semacamnya yang jelas tidak mengasyikan. 


Kisah cinta nya pun selalu berlangsung membahagiakan. Ketika dia menyukai seseorang, dia selalu bisa membuat orang itu memerhatikannya, lalu mendekatinya. Ditambah lagi, dia memang cantik. Dia orang yang penuh harapan, begitu juga orang lain mungkin banyak yang berharap padanya. Dia dan aku sangat berbeda.Selama kami mengobrol, dialah yang selalu menguasai percakapan. Kebanyakan kami selalu mengobrol tentang dirinya. Aku lebih sering mendengarkan, atau sesekali menanggapinya dengan ‘oh begitu’ atau ‘masa sih’ atau semacamnya. 


Meski pernah juga aku bercerita tentang diriku. Tapi dia selalu menanggapinya dengn ceritanya. Sehingga selanjutnya kita akan membicarakan dirinya lagi. Dia selalu bersemangat saat menceritakan dirinya.Aku baru sadar, sebagai ‘pasangan’ sahabat. Harusnya kita saling bercerita. Tapi yang terjadi malah setiap aku bercerita, dia selalu memotong dengan ceritanya. Akhir akhir ini aku mulai menganggap ocehanku tidak cukup penting untuknya. Aku jarang bercerita lagi tentang aku padanya. Aku resmi jadi pendengar.Mungkin juga ini sebabnya, dia tidak mengetahui hubunganku dengan sosok itu. Aku memang jarang bercerita padanya, seperti yang tadi aku sebutkan. 


Mungkin inilah yang menjadikan kita ‘Discomunication’. Dia tidak tahu seberapa jauh hubunganku dengan sosok itu.Aku tidak bisa memikirkan ini sendirian. ini kan bukan hanya menyangkut perasaanku. Aku harus menanyakan hal ini padanya.

***


Malam ini kau menghembuskan udara yang sangat dingin, hingga aku harus berkali- kali merapatkan jaketku. Jarak rumahku dan sahabatku memang tidak terlalu jauh, tapi cukup membuatku menghela nafas karena malam yang pekat juga udara yang tidak bersahabat membuat perjalanan lebih panjang.


Aku sampai di rumahnya. Ku goyang kan lonceng berbentuk owl di pagarnya. Rumahnya memiliki kesan hangat, dengan lampu-lampu keemasan yang berpendar dari celah jendelanya membuatku membayangkan betapa nyamannya didalam sana. Seorang gadis muncul dari balik pintu. Aku pun menyembulkan kepalaku dari pagar agar dia dapat melihatku. Dia menyunggingkan senyum tipis. Lalu mempersilahkan aku masuk.


Tidak seperti biasanya. Tak ada teh hangat. Aku duduk di kursi ruang tamunya dengan canggung. Kata-kata yang sudah aku susun kemarin mendadak buyar dari kepalaku. Berserakan disana-sini. Suasana yang hangat bahkan tak turut merubah keadaan menjadi hangat. 


Kita terdiam cukup lama.‘Aku sudah tahu, kenapa kemarin kau marah padaku’ akhirnya aku berani memulai percakapan. Dia memandangku. ‘Ku kira kau sudah tau, aku menyukainya sejak lama’ ucapnya santai. ‘Aku tidak tahu kau seserius ini, maksudku... bagaimana dengan orang yang waktu itu kau ceritakan? Kau tidak memiliki perasaan dengannya? Maksudku.. kalian kan cukup dekat’ Aku mulai membiarkan rasa ingin tahuku mengambil alih. ‘Maksudmu dia? Aku dan dia hanya ‘Adik-kakak’, aku tidak benar-benar menyukainya’ jawabnya, lagi-lagi dengan nada suara yang santai. Aku mulai kehabisan pertanyaan, ‘Aku pikir kalian saling menyukai’, aku tersenyum hambar. ‘Tidak, saat ini aku menyukai dia’ ucapnya sambil menunjuk foto yang tergantung di dinding di hadapannya. Foto itu ada di belakangku. Foto sosok yang saat ini aku sukai. Aku terdiam.‘Kau masih menyukainya? Kudengar kalian cukup dekat akhir-akhir ini’ ucapannya sedikit pedas. Aku menoleh ke arah lain, ‘Aku memang menyukainya’. ‘Kita menyukai orang yang sama, dan itu bukan hal yang bagus’. 


Kini aku berani menatapnya, ‘Lalu apa yang harus aku lakukan?’. Dia tersenyum, ‘Aku juga sedang dekat dengannya, kemarin dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang’. Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri berdentum diluar batas. Sakit.


***
Aku sudah berada di depan rumah megah itu. Papan kokoh itu masih disana. Tidak bergeser sedikitpun. Aku menghela nafas panjang. Kutekan bel rumahnya.Seseorang keluar dari pintu, tampaknya sedikit terganggu. Langkahnya malas menghampiriku. Mungkin gelapnya malam tak membuatnya menyadari siapa yang datang. Saat dia berada tepat dihadapanku, dia baru menampakan senyum lebarnya, sambil mempersilahkan aku masuk.Aroma teh panas ku sesap pelan-pelan, dia memerhatikanku. 


‘Jadi, ada apa malam-malam berkunjung kesini? Tidak biasanya’. Ku teguk tehku sampai rasa hangatnya menjalar meresapi kerongkonganku. ‘Aku hanya ingin mengunjungimu’ jawabku, lagi-lagi bersembunyi dibalik cangkir teh. ‘Ternyata bukan kedatanganmu saja yang tidak biasa, sikapmu pun tidak biasa. Ayo ceritakan, ada apa?’ ucapnya sambil menggeser posisi duduknya. ‘Emmm.. temanku.. temanku menyukaimu’ .


Air mukanya berubah, tapi terus meyimak ceritaku. Selanjutnya ceritaku pun mengalir. Tentang triplek itu, tentang perasaannya, dan aku yang berniat sedikit menjaga jarak dengannya.Dia tampak berfikir. Aku ingin tahu apa tanggapannya. ‘Mmm.. jika kau tak keberatan, aku ingin kita tetap seperti ini. Kau boleh melupakan dulu perasaanku padamu. Kita seperti teman biasa saja’. Aku menghela nafas, ‘Aku pun ingin kita tetap seperti ini, tapi.. itu pasti sulit sekali’ aku memang tak terlalu yakin. Aku menghela nafas panjang sekali lagi, ‘Kenapa sih, banyak sekali badai yang menghadang?’. Dia hanya tersenyum, ‘Dengarkan aku, setelah badai itu ada hujan, dan setelah hujan itu ada pelangi. Kalau kita bisa melewati keduanya, kita pasti akan melihat pelangi’. Aku pun ikut tersenyum. ‘Asal engkau tau, aku sangat senang bisa mengenalmu, bicara denganmu.. seperti ini’ ucapnya spontan, masih dengan senyum yang sama. Aku semakin melebarkan senyumku. 


Lazuardi, lekaslah kirim pelangimu untukku.


***


Hujan rintik-rintik masih membasahi pekarangan rumahku. Dingin. Dan sendirian. Aku harap ini takkan lama. Aku benar-benar ingin menyelesaikan semua ini. Aku sudah muak. Aku benci dengan keadaan ini. Aku masih memeluk lututku, sampai suara bel rumahku berdenting. Aku pun beranjak dengan ogah-ogahan, siapa pula yang datang di pagi dingin dan hujan begini. Segera kubukakan pintu untuk orang nekat tersebut.


Ternyata dia. Si pemilik triplek. Ya, sahabatku. Aku langsung mempersilahkannya masuk, walau sebenarnya aku sedang malas membicarakan –hal entah apa itu— sesuatu yang menyangkut perasaannya –dia bilang sih perasaan kita—.‘Aku sudah bercerita padanya’ gumamnya tiba-tiba. Aku sontak bingung. ‘kau... cerita apa padanya?’. Dia tak menjawabku. Malah mengedarkan pandangan ke arah lain.  Tampaknya sedang menyembunyikan raut muram di wajahnya. ‘Aku pun sudah berbicara padanya’ Aku mengambil nafas kecil ‘Dia ingin hubungan aku dan dia tetap seperti sekarang, maksudku... kita.. berteman seperti biasa, dan.. dia memintaku untuk melupakan perasaannya. Hmm?’ Ucapku jujur. 


Aku memang tak berbakat menyembunyikan sesuatu. Ku harap dia mengerti, tapi sepertinya wajahnya semakin muram. Aku jadi sedikit khawatir, ‘Kau.. baik-baik saja? Apa kau keberatan?’ Tanyaku hati hati. Dia hanya menunduk, wajahnya sedikit memerah, tapi semakin muram. Akhirnya sesuatu seperti air menetesi rok nya. Oh, dia menangis. ‘Aku... Aku keberatan’.Aku terdiam. Mencerna kata-katanya. Aku harap aku salah dengar, ‘Jadi.. kau... keberatan?’ tanyaku lagi. ‘maafkan aku, tapi aku sudah lelah dengan semua ini, aku sudah lelah menahan segala sakit ini. Maaf, kali ini aku hanya ingin jujur’ Jawabnya lirih. 


Kuusap perlahan tetesan air yang kian deras dari pelupuk matanya. ‘Sudahlah, aku mengerti. Aku tak akan mengganggu kalian lagi. Sungguh, aku akan menjauhinya’ Aku tak tahu apa yang tadi aku ucapkan, tapi semoga saja aku bisa membuatnya berhenti menangis. Dia mulai menegakkan kepalanya, mungkin berusaha tegar. ‘Aku tahu kau menyayanginya’ perasaanku bergetar cepat. Tapi segera ku atasi dengan senyuman yang aku harap bisa diartikan sebagai keikhlasan olehnya. ‘Apa kau sadar apa yang kau ucapkan’ mungkin dia masih tidak yakin dengan sorot mataku. Aku mengambil nafas panjang, ‘Lagipula, kau tak memberiku pilihan lain kan?’. ‘Iya juga sih’ Ujarnya pelan. Aku tak tahu apa aku akan benar-benar melakukannya.


***          
Hari- hari terasa lambat. Aneh tanpa kehadirannya. Aku mengurung diriku di kamar. Melihat matahari justru membuatku semakin merindukannya. Sesak. Aku betul betul ingin menemuinya. Aku belum terbiasa.            


Ting-tong!           

Siapa pula yang datang? Segera kubenahi rambutku di depan cermin. Setidaknya aku tidak akan membuat tamuku kabur melihat wajah berantakan –ditambah rambut berantakan pula—. Aku pun segera menghampiri knop pintu dan melihat siapa yang ada di baliknya.            


Hening.Dia. Sosok itu. Menatapku kosong. Aku yakin waktu sedang berhenti sekarang.


***          

‘Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang’ Jawabnya, menatap langit-langit rumahku. Dia kelihatan sedikit frustasi. Aku menatapnya, sebenarnya aku tidak ingin membuatnya bingung, tapi aku tidak bisa menyembunyikan hal ini darinya. ‘Mungkin kau pernah memberikannya harapan, maksudku..’. Dia menghela nafas berat. ‘Apa orang secuek aku masih saja dibilang pemberi harapan palsu?’. ‘Yah, kupikir.. bisa saja kan?’‘Bagaimana hubungan kalian sekarang? Kau dan.. temanmu itu?’ Aku terdiam sejenak. Aku bingung.‘Emm, kita baik baik saja kok’ Jawabku


Sial, sekarang dia menatapku. ‘Kalau soal kita?’Aku tak berani menatapnya balik. Sungguh, aku tidak tahu.


***           
                                                                                                            

Sejak saat itu, dia tak pernah terlihat dimanapun. Rumahnya, tempatnya biasa menyendiri. Semua nihil. Aku tak bisa menemukannya. Sekarang yang aku bisa lakukan hanya membenahi hubunganku dengan sahabatku. Mengisi waktu luang dengan menyibukkan diri, dan.. yah seperti ini. Mungkin hal yang terbaik untuk dipilih adalah tidak memilih apapun. Mungkin untuk sementara waktu, aku butuh untuk memahami diriku sendiri. memikirkan diriku sendiri. dan membenahi semuanya. Menarik nafas panjang, berusaha kembali rileks dengan kehidupanku. Aku akan bahagia pada akhirnya, pasti.Hari hari selanjutnya, selalu seperti ini. Tak ada yang spesial. Biasa saja, malah semakin buruk. 


Dia, sosok itu sepertinya terlalu pusing untuk mengurusi masalah kami. Dia memutuskan untuk meninggalkanku dan memintaku untuk mencari orang lain. Hubungan yang sudah mencapai titik jenuh. Aku pun sama  pusingnya haha, tolong lazuardi, katakan padanya. Ketika aku berusaha memperjuangkan, dia memilih untuk menyerah. Yasudahlah. Sekarang sudah lebih dari 21 hari sejak aku pertama kali menulis ini untukmu. Aku bertemu dengannya di sekolah, seperti biasa, tidak ada hal-hal yang kita perbincangkan. Seperti dua orang yang tidak saling mengenal. 


Yah, we are not friend, we are not enemy, maybe we just stranger with some memories-_-. Sekarang sudah bulan september, guess what? Sudah hampir setahun aku ‘mengenal’ nya. Sekarang.. huft. Sudah terlalu lelah untuk kita pikirkan apa dan bagaimana. Mungkin vakum untuk beberapa waktu, atau mungkin selamanya. Lazuardi, terimakasih sudah mendengar ceritaku. Haha kau tau aku terlalu banyak mengkhayal, mungkin sosok itu juga sedang membaca bagian suratku ini. Oh iya, kau tahu kan begitu banyak unsur-unsur tidak nyata dalam surat ini. Harap dimaklumi ya haha dan jangan anggap aku gila. Terimakasih untuk begitu banyak inspirasi.



Tertanda,
Astika Septiani                                                                                       



Setangkai Ilalang

Bunga ilalang putih berbuih
Lemah tertiup angin merenggut
Mengalirkan jiwa melahirkan hampa
Apalah arti ilalang?
Untuk apa dia disana?
Menyanyi pun tak bisa

Jangan kau renggut angin
Jangan ambil bunga bunganya
Itu menyakitkan
Tak semudah kau membelai setapak genangan air
Atau membuat selaput tipis gelembung gelembung sabun
Kau tau dia tak sekuat mereka
Dia akan patah tanpa bunga
Menyedihkan seperti sekuntum mawar tanpa kelopak

Ah tapi.. Sudahlah tak usah kau pikirkan dia
Dia patah pun kau akan terus terbang bukan?
Terbang saja dan jangan menoleh
Itu akan lebih baik kurasa
Lebih baik untukmu

Medusa

Pernahkah kau bayangkan rasanya jadi patung?
Samakah dia dengan besi? Kayu? Atau... Batu?
Lalu apa bedanya dia dengan batu?

Oh mungkin patung lebih estetik
lebih dihargai
Patung seperti punya kehidupan
Punya nyawa

Seperti menghirup oksigen
Padahal mati
Seperti batu
Mati

Pernahkan kau bayangkan rasanya jadi patung?
Mungkin pengap di dalam sana
Mungkin dia ingin teriak
Dia ingin keluar dari raga kaku yang memerangkapnya
Dia ingin bebas terbang sepertimu
Atau mungkin dia sangat ingin menyingkirkan debu di bawah dagunya

Tapi kau ingat
dia patung
Dia mati
Mati

Pernahkah kau bayangkan rasanya jadi patung?
Seperti yang ku bilang tadi?
Terlihat menderita kah?

Jika saja medusa datang ke abad millenium
Lihat dia dan rasakan jadi patung
Rasakan seperti mati
Rasakan tak dianggap
Rasakan seperti tak ada
Rasakan terperangkap

Rasakan bisu dan lumpuh
Rasakan jadi patung
Maka kau akan tau mengapa sekarang aku seperti ini
Dan kau akan berhenti menyalahkan aku

Sudah Pergi

Beranjak dari sini
Lepas tanganmu, aku tak mau tau
Iya kau pergi, pergi saja
Air mataku sudah menjadi kristal kristal garam
Aku tak butuh saputangan


Apa yang kau cari dalam ketidakpastian?
Aku adalah ketidakpastian untukmu
Aku bukan yang kau cari
Aku hanya hujan yang mengantarkan kebimbangan
Aku bukan siapa siapamu
Takkan berjejak walau aku berkuasa untuk itu

Jika kau ingin pergi
Itu wajar
Bukan hal aneh untukku yang bukan siapa siapamu
Pantaskah jika kuminta kau untuk tinggal?
Tidak, walaupun aku sangat sangat ingin


Hades mendekapku dalam subuh yang dingin
Mencari kematian hati yang tak terpancar
Redupnya matahari saja takkan kau sadari
Bahkan sebelum matahari benar- benar pergi
Kau sudah beraninya memeluk rembula
n

Hujan Kala Itu

Ketika rintik hujan begitu melambangkan perasaanmuApa kau tau artinya itu?
Iyakah bila langit ikut merasakan
Sedalam itukah?
Apa kau mengerti?

Dingin hingga menyentuh titik beku
Rasa sakit yang melampaui ambang batas rasa
Apa arti dari itu semua?
Apakah kau mengerti?
Inginkah kau mengerti?

Bila saja sesak bukan sekedar rasa
Sakit itu hidup dan menyiksa
Masih adakah asa yang tersisa?
Untuk menyusun lagi serpihan yang berantakan

Tidak

Ini sudah terlanjur hancur!

Bila saja masih ada yang bisa dipertahankan
Mungkin hujan tak akan turun

Jumat, 17 Mei 2013

Cinta Sebongkah Besi

Aku adalah sebongkah besi
Kokoh menuntut keabadian
Sepi sendiri dan kesepian
Hanya ada aku dan tetes hujan

Aku adalah sebongkah besi
Adakan sedetik waktumu temani aku?
Menggigil sendirian aku benci
Aku butuh pijar sinarmu

Kerlingan cintamu di tirai air
Akankah kau menyadarinya?
Pesona kilaumu di tetes embun
Apakah kau melihatnya?
Sebongkah besi mengagumimu
Akankah kau perdulikannya?

Aku masih tetap disini
Dihujami rintik hujan
Pun aku tak peduli
Karena aku ingin terus memujamu
Seperti embun memuja pagi

Sabtu, 11 Mei 2013

Aku Tahu Itu Kamu

Sesuatu yang berdetak
Makin lama makin cepat
Memburu dan berlari
Membuatku gelisah

Maukah kau menungguku sebentar?
Jangan mengalir terlalu cepat
Aku sedang menunggu seseorang

Kucoba meraihmu
Tapi hanya gumpalan pasir
yang memenuhi telapak tanganku
Menyusup di sela sela jemariku
Lalu jatuh dan menghilang

Tapi aku akan terus menunggu
Sampai batas waktu yang tidak ditentukan
Sampai aku tak tau lagi
berapa banyak waktu meninggalkanku
Walau pada akhirnya tetap saja waktu akan menuntutku

-AS