Kurangkaikan bunga-bunga itu untukmu, sayang. Sebagai tanda bukti benih mawar merah yang kutanam depan rumahmu. Kupilihkan mawar-mawar terbaik untukmu, yang paling wangi juga segar. Supaya bisa kutebus hati yang mahal itu, untuk kumiliki dan kujadikan teman tidurku sepanjang hayat.
Seperti embun pagi yang dingin kau datang mengingatkanku bahwa hari ini akan indah. Kau datang laksana air di ujung daun pertanda alam itu hidup. Aku sadar dirimu adalah seraut wajah indahnya alam raya. Terimakasih untuk membangkitkan asaku dihari esok.
Kau memberi tahuku, bahwa hari ini adalah hadiah teragung untuk aku yang berjuang hampir mati kemarin. Dan atau kesempatan kedua untuknya yang tidak sengaja melepas emas ke lautan. Terimakasih telah menyadarkan bahwa air hujan pun masih sudi membasahi tanah subur negeriku.
Kau mengingatkanku untuk berlari kencang selagi masih digaris depan, dan merasakan nikmatnya berjuang habis-habisan demi ucapan selamat sukses darimu.
Kau mengingatkanku untuk melahap sekurang-kurangnya satu piring kebahagian setiap menjelang sore, dan menikmatinya sambil melepas semua toksin-toksin menyebalkan yang masih melekat dalam keringat.
Kau jugalah yang membelai mesra rambut lepekku sambil menyanyikan nina bobo dalam bahasamu.
Hingga aku terlelap dan memimpikanmu sampai tidak mau bangun lagi.
Satu yang kuingin peringatkan padamu, tolong jangan pernah buat aku lepas dari peluk hangatmu di malam hari. Setiap malam sampai malam keseribu, atau mungkin lebih, nyanyikan lah ninabobo itu lagi sampai kau lupa dan pikun akan nada lagunya.
Aku tidak mau sebentar bersamamu. Bahagiaku kini kau genggam erat, tolong simpan dihatimu.
Dariku,
Untuk embun pagiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar