Selasa, 03 November 2015

Untuk Embun Pagiku

Kurangkaikan bunga-bunga itu untukmu, sayang. Sebagai tanda bukti benih mawar merah yang kutanam depan rumahmu. Kupilihkan mawar-mawar terbaik untukmu, yang paling wangi juga segar. Supaya bisa kutebus hati yang mahal itu, untuk kumiliki dan kujadikan teman tidurku sepanjang hayat.

Seperti embun pagi yang dingin kau datang mengingatkanku bahwa hari ini akan indah. Kau datang laksana air di ujung daun pertanda alam itu hidup. Aku sadar dirimu adalah seraut wajah indahnya alam raya. Terimakasih untuk membangkitkan asaku dihari esok.

Kau memberi tahuku, bahwa hari ini adalah hadiah teragung untuk aku yang berjuang hampir mati kemarin. Dan atau kesempatan kedua untuknya yang tidak sengaja melepas emas ke lautan. Terimakasih telah menyadarkan bahwa air hujan pun masih sudi membasahi tanah subur negeriku.

Kau mengingatkanku untuk berlari kencang selagi masih digaris depan, dan merasakan nikmatnya berjuang habis-habisan demi ucapan selamat sukses darimu.

Kau mengingatkanku untuk melahap sekurang-kurangnya satu piring kebahagian setiap menjelang sore, dan menikmatinya sambil melepas semua toksin-toksin menyebalkan yang masih melekat dalam keringat.

Kau jugalah yang membelai mesra rambut lepekku sambil menyanyikan nina bobo dalam bahasamu.

Hingga aku terlelap dan memimpikanmu sampai tidak mau bangun lagi.

Satu yang kuingin peringatkan padamu, tolong jangan pernah buat aku lepas dari peluk hangatmu di malam hari. Setiap malam sampai malam keseribu, atau mungkin lebih, nyanyikan lah ninabobo itu lagi sampai kau lupa dan pikun akan nada lagunya.

Aku tidak mau sebentar bersamamu. Bahagiaku kini kau genggam erat, tolong simpan dihatimu.




Dariku,

Untuk embun pagiku.

Minggu, 01 November 2015



Sabarlah cintaku,
Jalan masih panjang, Pasir laut yang jatuh sebutir-sebutir di jam itu tak perlulah kau hitung lama habisnya. Aku ingin menanti, menunggu dengan sabar, menikmati detik demi detiknya sampai habis. Juga menikmati setiap senyum dan canda yang mengukir di hati menjadi sebentuk kenangan yang takan bisa terhapus. Bahkan menikmati setiap tetes air mata yang luruh ketika kusenderi pundakmu yang letih itu.

Sabarlah cintaku,
Detik-detik yang berlalu biarlah jadi perekat genggaman kita, mengantarkan kita pada singgasana abadi didepan sana. Menduduki tahta agung yang hanya kita berdua saja yang tahu. Biarlah semua itu datang, menyergap hingga kita tak mampu lagi merapal doa-doa malam kita. Biarlah detik yang habis nantinya jadi bukti bahwa kita bisa mengalahkan sang waktu.

Sabarlah cintaku,
Kita lebih kuat dari apapun itu, lebih tegar dari karang dilautan, dan lebih kokoh dari gedung pencakar langit. Jarak biarlah jadi sahabat kita, jadikan dia bukti bahwa hati kita lebih kuat dari ribuan mil yang kau tempuh untuk menggapai mimpi. Biar alam raya pun takjub lalu menunduk mendoakan kita dan merangkul raga kita selamanya.

Minggu, 18 Oktober 2015



Hello !

Senang bertemu kamu lagi, langitku! Maaf begitu lama menghilang, aku datang kesini lagi hanya ingin memperkenalkan seseorang yang kini sedang menabur benih mawar merah di kebun rumahku. Aku bingung menyebutnya apa, tapi dia adalah rangkuman dari seluruh ucap doaku dipagi hari, dan obat untuk rintih perihku di malam sunyi. Dulu memang aku sempat memimpikan membuat sebentuk pelangi bersama sang bagaskara -yang sekarang entah dimana- di kanvas raksasa nan indah, yaitu kamu, langitku. Tapi malah badai besar yang ia berikan dan langitku begitu gelap dan sunyi seperti ladang kematian.

Kini bagaskara itu datang lagi, tapi dengan wujud yang berbeda.

Bukan, bukan yang dulu mengecewakanku dengan skandal perselingkuhannya dengan laut-laut di bumi, kini tahta galaksi mu sudah berganti. Kita sebut saja sosok ini mentari. Dia mentariku.

Mentariku jauh lebih hangat, lebih penuh rasa cinta, tidak seperti bagaskara. Dia yang menguasai kerajaan ini sekarang, dia yang bertugas begitu lihai tau kapan menyejukkan tau kapan menghangatkan. Dia begitu menjiwai setiap langkah yang dia tapakkan untuk menghampiriku. Setiap derapnya yang menggemparkan hati tak pernah bisa membuat bosan. Seluruh bintang pun memujanya setulus hati.

Langit, aku meminta ijin padamu untuk membiarkan dia tinggal dan akan kubagi setiap hari kehangatannya untukmu langitku. Buatlah dia selalu bahagia dengan tugasnya, dan bantulah kami menyusuri tiap langkah menuju keabadian yang sesungguhnya. Aku tahu ini bukanlah kuasamu, tapi tolong aku sampaikan pada-Nya.

Aku tidak bisa begitu egois untuk meminta dia , Mentariku , untuk menghangatkan hidupku selamanya. Tapi dengan segenap hati, aku ingin bilang bahwa aku benar-benar menikmati hangat sinarnya. Aku tak percaya sekarang aku begitu mudahnya dibuat bahagia.

Terimakasih untuk semua waktu yang selalu engkau berikan langitku, jangan lupa sampaikan doa ku
kepada-Nya. dan, sampaikan juga segenap salamku untuk mentariku.

Senang melihatmu begitu cerah.



Dariku,

Lazuardi