Jumat, 17 Mei 2013

Cinta Sebongkah Besi

Aku adalah sebongkah besi
Kokoh menuntut keabadian
Sepi sendiri dan kesepian
Hanya ada aku dan tetes hujan

Aku adalah sebongkah besi
Adakan sedetik waktumu temani aku?
Menggigil sendirian aku benci
Aku butuh pijar sinarmu

Kerlingan cintamu di tirai air
Akankah kau menyadarinya?
Pesona kilaumu di tetes embun
Apakah kau melihatnya?
Sebongkah besi mengagumimu
Akankah kau perdulikannya?

Aku masih tetap disini
Dihujami rintik hujan
Pun aku tak peduli
Karena aku ingin terus memujamu
Seperti embun memuja pagi

Sabtu, 11 Mei 2013

Aku Tahu Itu Kamu

Sesuatu yang berdetak
Makin lama makin cepat
Memburu dan berlari
Membuatku gelisah

Maukah kau menungguku sebentar?
Jangan mengalir terlalu cepat
Aku sedang menunggu seseorang

Kucoba meraihmu
Tapi hanya gumpalan pasir
yang memenuhi telapak tanganku
Menyusup di sela sela jemariku
Lalu jatuh dan menghilang

Tapi aku akan terus menunggu
Sampai batas waktu yang tidak ditentukan
Sampai aku tak tau lagi
berapa banyak waktu meninggalkanku
Walau pada akhirnya tetap saja waktu akan menuntutku

-AS

Mati Saja Sekalian


Entah apa yang akan terjadi setelah ini. 
Terjadi saja
Aku akan diam disini. 
Menonton sandiwara. 
Sesekali tersenyum.
Sesekali terharu. 
Sesekali menyumpah.

Biar saja semuanya bermain seperti ini. 

Berlari liar menyakiti satu sama lain. 
Hingga terseok, berdarah darah. mengasyikkan!

Aku akan menonton dari sini. 

Mungkin melempar beberapa kulit kacang 
ketika kalian mulai membuatku bosan.
Ketika kalian mulai berhenti  untuk saling menyakiti.

Terus saja saling menikam sampai puas! 

Sampai tak ada celah lagi untuk kau tancapkan belati itu
Aku ingin melihat kalian mati sekalian!

Imajiner


Aku bingung
Aku tersesat
Bagai kapal karam di tengah laut
Diam berserah menghitung waktu
Hingga kau datang 
Membawa oksigen
Untuk ruang hampa udaraku

Tersusun apik dalam memori ingatan
Setiap patah kata dan ucap mata
Tak mati ditelan setiap detik yang melebur
Setiap sudut lengkung bibir tak jua luput dari isi otakku
Begitu nyata dan... Hidup!

Ya, mereka memang nyata.
Mereka punya nyawa.
Hanya aku yang imajiner.

Pelataran Gelap



Seorang gadis rapuh terseok seok.
Setiap langkahnya seperti menyakitkan.
Dia terlalu jauh berjalan. 
Terlalu lama menahan pedih.

Dia ingin berhenti.
Barang semalam dua malam.
Tapi dimana? semua pelataran sudah penuh. 
Tak ada yang perduli. 
Padahal ia sungguh ingin istirahat.

Ah tunggu!
Di ujung sana,  hampir beberapa bukit lagi.
Ada satu sisi temaram. 
Tak ada kawan. 
Tak ada makan. 
Lembab dan berlumut.

Apa boleh buat? 
Dia sudah tak kuat. 
Dia ingin berlari. 
Berteriak. 
Lalu mengenyahkan batu berat 
Yang mungkin sedang menggelayut di kaki kecilnya. 
Tapi dia sangat lelah.

Lagi lagi langkahnya diseret ke pelataran sunyi itu.
Lalu diam sebentar.
Lalu jatuh terduduk
Dan menangis

Pentas


Sayup-sayup petik gitar terdengar semu
Menyesap lembut menabuh gendang telinga
Membuatnya berdentum hingga ke saraf
Membuatku menyadari darimana suara itu bergelombang

Semua orang bersorak
Semua orang berisik
Mengumpulkan getaran suara yang mengesalkan
Bisakah kalian diam sebentar?
Aku ingin mendengarkan suara ini

Kutelusuri jemarinya menari di atas senar
Kurekam tiap inci gerakkannya
Perlahan hatiku ikut bersenandung melagu
Aku tak tau aku sedang terbuai


Malam dan Api


Kulihat pertengkaran mereka
Dengan jelas seperti melihat kobaran api dalam gelap
Kupikir kalian pasangan sempurna
Kupikir kalian.. kalian..

Laut seperti tak peduli lagi padamu
Reliefnya sangat tenang
Hampir tak terlihat
Tak kulihat setetespun air
turun dari matanya saat kau beranjak

Kobaran api masih menggebu
Melahap hektar padang emosimu
Baru kusadari kau datang kembali padaku

Apa yang kau inginkan?
Setitik sinarmu saja sudah cukup bagiku
Tapi apa harus kau datang saat laut membencimu?
Kau ingin aku menghiburmu?

Bagaimana ketika kau meninggalkanku?
Aku berjuang sendirian mengusir rasa sakit
Melampiaskan pada serpihan kaca yang menggores uratku
Membuang air mata hingga surut
Semenderita itukah?

Lalu sekarang kau datang padaku
Berharap akan kulukiskan pelangi disampingmu
Berharap kita akan tertawa seperti tidak ada apa apa

Bagaimana jika laut tidak pernah marah?
Bagaimana jika laut masih peduli padamu?
Apa kau akan menghampiriku?
Menerpakan sinarmu diwajahku?
Atau malam tetap menyelimuti hari seperti dahulu..

Tertanda,
Lazuardi

Kamis, 09 Mei 2013

Puisi tentang Aku dan Langit part 4


             Gadis itu paham betul apa yang dirasakan langit. Sedikit banyak ia pernah merasakannya. Ketika hatinya jatuh terduduk pasrah dan menangis. Langkahnya terseret mengambil sebuah kotak hitam. Diangkatnya teleskop yang ada di dalamnya, dipasangkan tepat dihadapannya. Diteropongnya langit, berharap dia masih waras dan baik baik saja..
Tuhan, keadaannya sangat kacau. Gadis itu terlampau khawatir padanya. Dikirimnya belasan surat pada langit. Berharap sedikit saja langit bercerita padanya. Dilihatnya lagi lensa teleskop dihadapannya. Sambil terus berharap.. kertas melayang dihadapannya.. ia tau langit akan mengabarinya.

Aku dan Kapas hitam

Aku masih bersembunyi di balik gulita malam
Berharap tak ada yang melihat wajah konyolku ini
Takut kalau kalau dijadikan bahan lelucon oleh bintang bintang bodoh itu
Takut kalau kalau mereka menemukan setitik kemunafikan dari salah satu tetes air mataku

Rembulan masih setia menemaniku
Menyimak setiap kata kata serapah dari bibir kejiku
Kucerocosinya dengan kisah pengkhianatan bagaskara
Dibumbui hinaan dan cacian hiperbola
Diakhiri letupan letupan amarah di setiap paragraf ceritaku

Dengan sabar diangguk anggukan kepalanya
Hingga cipratan air mataku pun tak digubrisnya dengan sepatah katapun
Raungan dan teriakan gilaku pun tak dilerainya
Hampir saja ku obrak abrik seluruh bima sakti
Jika saja lengannya tidak melingkari tubuh rapuh ini

Pantulan sinar bagaskara memancar dari seluruh sudut tubuhnya
Semakin menyiksa batinku
Mengukirkan luka menohok di seluruh bagian tubuhku
Menyuarakan dusta dalam setiap binar sinar itu

Aku benci merindukanmu
Aku benci mengingat semua itu
Jika dulu kubilang aku mengerti
Itu hanya salah satu dialog drama kemunafikanku
Sebenarnya aku tidak pernah bisa mengerti

Satu hal saja yang aku percaya dari semua ini..
Suatu saat kau akan bertekuk lutut dihadapanku
Merapalkan kata kata maaf dari bibir brengsekmu
Membakar laut dan segala kejalangannya
Menciumi punggung kakiku
Dengan air mata sesal di ujung dagumu
Dan kedua belah tanganku membelai sesap nafas hangatmu
Membuang segala bentuk kebohongan yg tersisa di tiap hembus udaramu

Gadis itu menangis dalam diamnya. Tersungkur kedalam pasir pantai yang lembut. Perlahan matanya terpejam. Seakan ingin menghentikan setiap aliran pedih yang kian menderas. Matanya terus terpejam hingga terbuai. Raganya yang rapuh terlalu lemah menanggung semuanya. Hal apapun yang dirasakan langit, sesungguhya dirasakannya jua..
Yang dia harapkan hanyalah..
 Kedatangan matahari  saat matanya terbuka nanti..

Puisi Tentang Aku dan Langit part 3


Langit mengetahui keberadaannya. Langit peduli padanya. Tapi langit sedih dan rapuh.. secarik kertas turun perlahan di hadapan gadis itu. Lalu ia menggumam dalam tangis, sepasang lensa mata terkunci menatap langit. Ia mengerti. Dilayangkannya surat itu, menuju ombak yang berayun, berharap matahari akan membacanya...
“Aku saksi kunci perpisahanmu. Mengintip secarik suratmu untuknya”


Dari Lazuardi Untukmu

Mega menyelimutiku seketika
Waktu mengantarkan kami
Pada saat saat terburuk di musim ini
Aku masih ingin bercengkrama denganmu
Mencipta pelangi dan membuat hujan

Aku masih butuh sinarmu
Terlalu sulit aku lepaskannya
Aku sudah terlalu terbiasa memandanginya
Sepertinya kau dan sinarmu
Sudah menjadi bagian dari lensa mataku

Aku masih ingin memelukmu
Merasakan kehangatanmu yang menenangkan
Tapi sepertinya kau tidak begitu
Jangan katakan itu
Jangan. Tolong jangan sekarang.

Dan kau masih dengan lamunanmu
Memandangi sesuatu yang berderu indah di bawah sana
Meliuk memainkan alunan memanggilmu turun

Dia sama-sama biru sepertiku
Lalu apa hebatnya?
Hanya karena dia lebih agresif dariku?
Bukannya kau lebih dulu denganku?
Jangan. Tolong jangan sekarang.

Tapi kau bilang ini sudah waktunya.
Ya, aku mengerti.
Kau pun mulai turun mendekatinya
Menikmati setiap inci jarak yang kian hilang
Aku membenci diriku sendiri dalam diam

Kalian saling menyatu dengan indah dibawah sana
Hampir sempurna tanpa celah
Mau tak mau, harus ku akui
Kau lebih baik tanpa aku

Aku menyeret langkah lemah
Perlahan aku mulai menggelap
Sekarang hanya ada aku dan sisa sisa cahayamu
Setidaknya aku masih bisa memandang
pantulanmu di ujung sana
Dalam sebentuk sosok yang lain

Haruskah aku mencintai rembulan?

Puisi Tentang Aku dan Langit part 2





Hari yang lain, masih gadis yang sama, masih tempat yang sama, juga masih renungan yang sama. Sesungguhnya ia berharap keindahan itu akan tinggal lebih lama...

-Sepatah kata tentang berkas sinar harapan itu, dari gadis rapuh dibalik embun pagi

Persinggahannya

Ketika cahaya keemasan berpendar
dari celah-celah dedaunan
Dan lalu menembus tirai air di pegunungan
Lalu kembali lagi ke langit

Terlukis dari prisma air itu
Cahaya berbagai warna di wajahnya
Menghipnotis pasang pasang mata yang mempelajarinya
Seakan membingkai bumi dengan senyumannya
Mengagumkan!

Tapi jangan tertipu,
Jangan harap langit akan seperti ini selamanya
Keindahan sesaat
Manipulatif
Benar memang, bintang paling terang itu cepat mati
Pantulan cahaya indah itu memudar seketika
Langit menyepi, lalu mulai menggelap
Sekumpulan kapas kehitaman bergumul di langit
Kapas-kapas itu makin mengeruh
Menimbulkan gemuruh
Dan saling beradu
Menimbulkan kilatan kilatan putih super cepat diantaranya
Lalu pecah dan menghancurkan diri
Dia marah
Hujan turun lagi

Puisi Tentang Aku dan Langit part.1









Seorang gadis termenung menatap langit..tak perduli rintik hujan terus menghujam wajahnya. Ia mengambil pena dan secarik kertas, mulai menuliskan sesuatu.. merangkai kata demi kata curahan hatinya. Melipat kertas itu menjadi sebentuk kapal mainan.
Dan lalu menerbangkannya….  
         
Sepucuk surat untuk Lazuardi, dari gadis lemah dibawah lembayungmu.


Menunggu Matahari

Raja langit marah lagi
Awan-awan pun menangis
Angin berlari ketakutan
Aku terdiam di bawah selimut lara
Menggigil sendirian

Tapi aku ingin tetap disini
Mencicipi sedikit saja air mata sang awan
Menangis bersamanya
Sehingga hatiku tenang

Hai Raja Langit!
Aku tahu apa yang meracau pikiranmu
Surya
Iya, Surya

Kita menunggu sosok yang sama
Sehingga ketika dia datang
Dan menghangatkanmu lagi
Nampak lengkungan gradasi warna indah di wajahmu
Sehingga kau tersenyum

Dan akupun ikut tersenyum