Aku adalah sebongkah besi
Kokoh menuntut keabadian
Sepi sendiri dan kesepian
Hanya ada aku dan tetes hujan
Aku adalah sebongkah besi
Adakan sedetik waktumu temani aku?
Menggigil sendirian aku benci
Aku butuh pijar sinarmu
Kerlingan cintamu di tirai air
Akankah kau menyadarinya?
Pesona kilaumu di tetes embun
Apakah kau melihatnya?
Sebongkah besi mengagumimu
Akankah kau perdulikannya?
Aku masih tetap disini
Dihujami rintik hujan
Pun aku tak peduli
Karena aku ingin terus memujamu
Seperti embun memuja pagi
Jumat, 17 Mei 2013
Sabtu, 11 Mei 2013
Aku Tahu Itu Kamu
Sesuatu yang berdetak
Makin lama makin cepat
Memburu dan berlari
Membuatku gelisah
Maukah kau menungguku sebentar?
Jangan mengalir terlalu cepat
Aku sedang menunggu seseorang
Kucoba meraihmu
Tapi hanya gumpalan pasir
yang memenuhi telapak tanganku
Menyusup di sela sela jemariku
Lalu jatuh dan menghilang
Tapi aku akan terus menunggu
Sampai batas waktu yang tidak ditentukan
Sampai aku tak tau lagi
berapa banyak waktu meninggalkanku
Walau pada akhirnya tetap saja waktu akan menuntutku
-AS
Makin lama makin cepat
Memburu dan berlari
Membuatku gelisah
Maukah kau menungguku sebentar?
Jangan mengalir terlalu cepat
Aku sedang menunggu seseorang
Kucoba meraihmu
Tapi hanya gumpalan pasir
yang memenuhi telapak tanganku
Menyusup di sela sela jemariku
Lalu jatuh dan menghilang
Tapi aku akan terus menunggu
Sampai batas waktu yang tidak ditentukan
Sampai aku tak tau lagi
berapa banyak waktu meninggalkanku
Walau pada akhirnya tetap saja waktu akan menuntutku
-AS
Mati Saja Sekalian
Entah apa yang akan terjadi setelah ini.
Terjadi saja
Aku akan diam disini.
Menonton sandiwara.
Sesekali tersenyum.
Sesekali terharu.
Sesekali menyumpah.
Biar saja semuanya bermain seperti ini.
Berlari liar menyakiti satu sama lain.
Hingga terseok, berdarah darah. mengasyikkan!
Aku akan menonton dari sini.
Mungkin melempar beberapa kulit kacang
ketika kalian mulai membuatku bosan.
Ketika kalian mulai berhenti untuk saling menyakiti.
Terus saja saling menikam sampai puas!
Sampai tak ada celah lagi untuk kau tancapkan belati itu
Aku ingin melihat kalian mati sekalian!
Imajiner
Aku bingung
Aku tersesat
Bagai kapal karam di tengah laut
Diam berserah menghitung waktu
Hingga kau datang
Membawa oksigen
Untuk ruang hampa udaraku
Tersusun apik dalam memori ingatan
Setiap patah kata dan ucap mata
Tak mati ditelan setiap detik yang melebur
Setiap sudut lengkung bibir tak jua luput dari isi otakku
Begitu nyata dan... Hidup!
Ya, mereka memang nyata.
Mereka punya nyawa.
Hanya aku yang imajiner.
Pelataran Gelap
Seorang gadis rapuh terseok seok.
Setiap langkahnya seperti menyakitkan.
Dia terlalu jauh berjalan.
Terlalu lama menahan pedih.
Dia ingin berhenti.
Barang semalam dua malam.
Tapi dimana? semua pelataran sudah penuh.
Barang semalam dua malam.
Tapi dimana? semua pelataran sudah penuh.
Tak ada yang perduli.
Padahal ia sungguh ingin istirahat.
Ah tunggu!
Di ujung sana, hampir beberapa bukit lagi.
Ada satu sisi temaram.
Di ujung sana, hampir beberapa bukit lagi.
Ada satu sisi temaram.
Tak ada kawan.
Tak ada makan.
Lembab dan berlumut.
Apa boleh buat?
Dia sudah tak kuat.
Dia ingin berlari.
Berteriak.
Lalu mengenyahkan batu berat
Yang mungkin sedang menggelayut di kaki kecilnya.
Tapi dia sangat lelah.
Lagi lagi langkahnya diseret ke pelataran sunyi itu.
Lalu diam sebentar.
Lalu jatuh terduduk
Dan menangis
Lalu diam sebentar.
Lalu jatuh terduduk
Dan menangis
Pentas
Sayup-sayup petik gitar terdengar semu
Menyesap lembut menabuh gendang telinga
Membuatnya berdentum hingga ke saraf
Membuatku menyadari darimana suara itu bergelombang
Semua orang bersorak
Semua orang berisik
Mengumpulkan getaran suara yang mengesalkan
Bisakah kalian diam sebentar?
Aku ingin mendengarkan suara ini
Kutelusuri jemarinya menari di atas senar
Kurekam tiap inci gerakkannya
Perlahan hatiku ikut bersenandung melagu
Aku tak tau aku sedang terbuai
Malam dan Api
Kulihat pertengkaran mereka
Dengan jelas seperti melihat kobaran api dalam gelap
Kupikir kalian pasangan sempurna
Kupikir kalian.. kalian..
Laut seperti tak peduli lagi padamu
Reliefnya sangat tenang
Hampir tak terlihat
Tak kulihat setetespun air
turun dari matanya saat kau beranjak
Kobaran api masih menggebu
Melahap hektar padang emosimu
Baru kusadari kau datang kembali padaku
Apa yang kau inginkan?
Setitik sinarmu saja sudah cukup bagiku
Tapi apa harus kau datang saat laut membencimu?
Kau ingin aku menghiburmu?
Bagaimana ketika kau meninggalkanku?
Aku berjuang sendirian mengusir rasa sakit
Melampiaskan pada serpihan kaca yang menggores uratku
Membuang air mata hingga surut
Semenderita itukah?
Lalu sekarang kau datang padaku
Berharap akan kulukiskan pelangi disampingmu
Berharap kita akan tertawa seperti tidak ada apa apa
Bagaimana jika laut tidak pernah marah?
Bagaimana jika laut masih peduli padamu?
Apa kau akan menghampiriku?
Menerpakan sinarmu diwajahku?
Atau malam tetap menyelimuti hari seperti dahulu..
Tertanda,
Lazuardi
Kamis, 09 Mei 2013
Puisi tentang Aku dan Langit part 4
Gadis itu paham betul apa yang dirasakan langit. Sedikit
banyak ia pernah merasakannya. Ketika hatinya jatuh terduduk pasrah dan
menangis. Langkahnya terseret mengambil sebuah kotak hitam. Diangkatnya teleskop
yang ada di dalamnya, dipasangkan tepat dihadapannya. Diteropongnya langit,
berharap dia masih waras dan baik baik saja..
Tuhan, keadaannya sangat kacau. Gadis
itu terlampau khawatir padanya. Dikirimnya belasan surat pada langit. Berharap
sedikit saja langit bercerita padanya. Dilihatnya lagi lensa teleskop
dihadapannya. Sambil terus berharap.. kertas melayang dihadapannya.. ia tau
langit akan mengabarinya.
Aku dan Kapas hitam
Aku masih bersembunyi di balik gulita
malam
Berharap tak ada yang melihat wajah
konyolku ini
Takut kalau kalau dijadikan bahan lelucon
oleh bintang bintang bodoh itu
Takut kalau kalau mereka menemukan
setitik kemunafikan dari salah satu tetes air mataku
Rembulan masih setia menemaniku
Menyimak setiap kata kata serapah dari
bibir kejiku
Kucerocosinya dengan kisah pengkhianatan
bagaskara
Dibumbui hinaan dan cacian hiperbola
Diakhiri letupan letupan amarah di setiap
paragraf ceritaku
Dengan sabar diangguk anggukan kepalanya
Hingga cipratan air mataku pun tak
digubrisnya dengan sepatah katapun
Raungan dan teriakan gilaku pun tak
dilerainya
Hampir saja ku obrak abrik seluruh bima
sakti
Jika saja lengannya tidak melingkari
tubuh rapuh ini
Pantulan sinar bagaskara memancar dari
seluruh sudut tubuhnya
Semakin menyiksa batinku
Mengukirkan luka menohok di seluruh
bagian tubuhku
Menyuarakan dusta dalam setiap binar
sinar itu
Aku benci merindukanmu
Aku benci mengingat semua itu
Jika dulu kubilang aku mengerti
Itu hanya salah satu dialog drama
kemunafikanku
Sebenarnya aku tidak pernah bisa mengerti
Satu hal saja yang aku percaya dari semua
ini..
Suatu saat kau akan bertekuk lutut
dihadapanku
Merapalkan kata kata maaf dari bibir
brengsekmu
Membakar laut dan segala kejalangannya
Menciumi punggung kakiku
Dengan air mata sesal di ujung dagumu
Dan kedua belah tanganku membelai sesap
nafas hangatmu
Membuang segala bentuk kebohongan yg
tersisa di tiap hembus udaramu
Gadis itu
menangis dalam diamnya. Tersungkur kedalam pasir pantai yang lembut. Perlahan
matanya terpejam. Seakan ingin menghentikan setiap aliran pedih yang kian
menderas. Matanya terus terpejam hingga terbuai. Raganya yang rapuh terlalu
lemah menanggung semuanya. Hal apapun yang dirasakan langit, sesungguhya
dirasakannya jua..
Yang dia
harapkan hanyalah..
Kedatangan matahari saat matanya terbuka nanti..
Puisi Tentang Aku dan Langit part 3
Langit
mengetahui keberadaannya. Langit peduli padanya. Tapi langit sedih dan rapuh..
secarik kertas turun perlahan di hadapan gadis itu. Lalu ia menggumam dalam
tangis, sepasang lensa mata terkunci menatap langit. Ia mengerti.
Dilayangkannya surat itu, menuju ombak yang berayun, berharap matahari akan
membacanya...
“Aku
saksi kunci perpisahanmu. Mengintip secarik suratmu untuknya”
Dari Lazuardi Untukmu
Mega menyelimutiku seketika
Waktu mengantarkan kami
Pada saat saat terburuk di musim ini
Aku masih ingin bercengkrama denganmu
Mencipta pelangi dan membuat hujan
Aku masih butuh sinarmu
Terlalu sulit aku lepaskannya
Aku sudah terlalu terbiasa memandanginya
Sepertinya kau dan sinarmu
Sudah menjadi bagian dari lensa mataku
Aku masih ingin memelukmu
Merasakan kehangatanmu yang menenangkan
Tapi sepertinya kau tidak begitu
Jangan katakan itu
Jangan. Tolong jangan sekarang.
Dan kau masih dengan lamunanmu
Memandangi sesuatu yang berderu indah di bawah sana
Meliuk memainkan alunan memanggilmu turun
Dia sama-sama biru sepertiku
Lalu apa hebatnya?
Hanya karena dia lebih agresif dariku?
Bukannya kau lebih dulu denganku?
Jangan. Tolong jangan sekarang.
Tapi kau bilang ini sudah waktunya.
Ya, aku mengerti.
Kau pun mulai turun mendekatinya
Menikmati setiap inci jarak yang kian hilang
Aku membenci diriku sendiri dalam diam
Kalian saling menyatu dengan indah dibawah sana
Hampir sempurna tanpa celah
Mau tak mau, harus ku akui
Kau lebih baik tanpa aku
Aku menyeret langkah lemah
Perlahan aku mulai menggelap
Sekarang hanya ada aku dan sisa sisa cahayamu
Setidaknya aku masih bisa memandang
pantulanmu di ujung sana
Dalam sebentuk sosok yang lain
Haruskah aku mencintai rembulan?
Puisi Tentang Aku dan Langit part 2
Hari yang lain, masih gadis yang sama, masih tempat yang sama, juga
masih renungan yang sama. Sesungguhnya ia berharap keindahan itu akan tinggal
lebih lama...
-Sepatah kata tentang berkas sinar harapan
itu, dari gadis rapuh dibalik embun pagi
Persinggahannya
Ketika cahaya keemasan
berpendar
dari celah-celah dedaunan
Dan lalu menembus tirai
air di pegunungan
Lalu kembali lagi ke
langit
Terlukis dari prisma air
itu
Cahaya berbagai warna di
wajahnya
Menghipnotis pasang pasang
mata yang mempelajarinya
Seakan membingkai bumi
dengan senyumannya
Mengagumkan!
Tapi jangan tertipu,
Jangan harap langit akan
seperti ini selamanya
Keindahan sesaat
Manipulatif
Benar memang, bintang
paling terang itu cepat mati
Pantulan cahaya indah itu
memudar seketika
Langit menyepi, lalu mulai
menggelap
Sekumpulan kapas kehitaman
bergumul di langit
Kapas-kapas itu makin
mengeruh
Menimbulkan gemuruh
Dan saling beradu
Menimbulkan kilatan
kilatan putih super cepat diantaranya
Lalu pecah dan
menghancurkan diri
Dia marah
Hujan turun lagi
Puisi Tentang Aku dan Langit part.1

Seorang
gadis termenung menatap langit..tak perduli rintik hujan terus menghujam
wajahnya. Ia mengambil pena dan secarik kertas, mulai menuliskan sesuatu.. merangkai kata demi kata curahan hatinya. Melipat kertas itu menjadi
sebentuk kapal mainan.
Dan lalu
menerbangkannya….
Sepucuk
surat untuk Lazuardi, dari gadis lemah dibawah lembayungmu.
Menunggu Matahari
Raja
langit marah lagi
Awan-awan
pun menangis
Angin
berlari ketakutan
Aku
terdiam di bawah selimut lara
Menggigil
sendirian
Tapi
aku ingin tetap disini
Mencicipi
sedikit saja air mata sang awan
Menangis
bersamanya
Sehingga
hatiku tenang
Hai
Raja Langit!
Aku
tahu apa yang meracau pikiranmu
Surya
Iya,
Surya
Kita
menunggu sosok yang sama
Sehingga
ketika dia datang
Dan
menghangatkanmu lagi
Nampak
lengkungan gradasi warna indah di wajahmu
Sehingga
kau tersenyum
Dan akupun ikut tersenyum
Langganan:
Postingan (Atom)