Langit
mengetahui keberadaannya. Langit peduli padanya. Tapi langit sedih dan rapuh..
secarik kertas turun perlahan di hadapan gadis itu. Lalu ia menggumam dalam
tangis, sepasang lensa mata terkunci menatap langit. Ia mengerti.
Dilayangkannya surat itu, menuju ombak yang berayun, berharap matahari akan
membacanya...
“Aku
saksi kunci perpisahanmu. Mengintip secarik suratmu untuknya”
Dari Lazuardi Untukmu
Mega menyelimutiku seketika
Waktu mengantarkan kami
Pada saat saat terburuk di musim ini
Aku masih ingin bercengkrama denganmu
Mencipta pelangi dan membuat hujan
Aku masih butuh sinarmu
Terlalu sulit aku lepaskannya
Aku sudah terlalu terbiasa memandanginya
Sepertinya kau dan sinarmu
Sudah menjadi bagian dari lensa mataku
Aku masih ingin memelukmu
Merasakan kehangatanmu yang menenangkan
Tapi sepertinya kau tidak begitu
Jangan katakan itu
Jangan. Tolong jangan sekarang.
Dan kau masih dengan lamunanmu
Memandangi sesuatu yang berderu indah di bawah sana
Meliuk memainkan alunan memanggilmu turun
Dia sama-sama biru sepertiku
Lalu apa hebatnya?
Hanya karena dia lebih agresif dariku?
Bukannya kau lebih dulu denganku?
Jangan. Tolong jangan sekarang.
Tapi kau bilang ini sudah waktunya.
Ya, aku mengerti.
Kau pun mulai turun mendekatinya
Menikmati setiap inci jarak yang kian hilang
Aku membenci diriku sendiri dalam diam
Kalian saling menyatu dengan indah dibawah sana
Hampir sempurna tanpa celah
Mau tak mau, harus ku akui
Kau lebih baik tanpa aku
Aku menyeret langkah lemah
Perlahan aku mulai menggelap
Sekarang hanya ada aku dan sisa sisa cahayamu
Setidaknya aku masih bisa memandang
pantulanmu di ujung sana
Dalam sebentuk sosok yang lain
Haruskah aku mencintai rembulan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar