Kamis, 09 Mei 2013

Puisi Tentang Aku dan Langit part 3


Langit mengetahui keberadaannya. Langit peduli padanya. Tapi langit sedih dan rapuh.. secarik kertas turun perlahan di hadapan gadis itu. Lalu ia menggumam dalam tangis, sepasang lensa mata terkunci menatap langit. Ia mengerti. Dilayangkannya surat itu, menuju ombak yang berayun, berharap matahari akan membacanya...
“Aku saksi kunci perpisahanmu. Mengintip secarik suratmu untuknya”


Dari Lazuardi Untukmu

Mega menyelimutiku seketika
Waktu mengantarkan kami
Pada saat saat terburuk di musim ini
Aku masih ingin bercengkrama denganmu
Mencipta pelangi dan membuat hujan

Aku masih butuh sinarmu
Terlalu sulit aku lepaskannya
Aku sudah terlalu terbiasa memandanginya
Sepertinya kau dan sinarmu
Sudah menjadi bagian dari lensa mataku

Aku masih ingin memelukmu
Merasakan kehangatanmu yang menenangkan
Tapi sepertinya kau tidak begitu
Jangan katakan itu
Jangan. Tolong jangan sekarang.

Dan kau masih dengan lamunanmu
Memandangi sesuatu yang berderu indah di bawah sana
Meliuk memainkan alunan memanggilmu turun

Dia sama-sama biru sepertiku
Lalu apa hebatnya?
Hanya karena dia lebih agresif dariku?
Bukannya kau lebih dulu denganku?
Jangan. Tolong jangan sekarang.

Tapi kau bilang ini sudah waktunya.
Ya, aku mengerti.
Kau pun mulai turun mendekatinya
Menikmati setiap inci jarak yang kian hilang
Aku membenci diriku sendiri dalam diam

Kalian saling menyatu dengan indah dibawah sana
Hampir sempurna tanpa celah
Mau tak mau, harus ku akui
Kau lebih baik tanpa aku

Aku menyeret langkah lemah
Perlahan aku mulai menggelap
Sekarang hanya ada aku dan sisa sisa cahayamu
Setidaknya aku masih bisa memandang
pantulanmu di ujung sana
Dalam sebentuk sosok yang lain

Haruskah aku mencintai rembulan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar