Kamis, 09 Mei 2013

Puisi tentang Aku dan Langit part 4


             Gadis itu paham betul apa yang dirasakan langit. Sedikit banyak ia pernah merasakannya. Ketika hatinya jatuh terduduk pasrah dan menangis. Langkahnya terseret mengambil sebuah kotak hitam. Diangkatnya teleskop yang ada di dalamnya, dipasangkan tepat dihadapannya. Diteropongnya langit, berharap dia masih waras dan baik baik saja..
Tuhan, keadaannya sangat kacau. Gadis itu terlampau khawatir padanya. Dikirimnya belasan surat pada langit. Berharap sedikit saja langit bercerita padanya. Dilihatnya lagi lensa teleskop dihadapannya. Sambil terus berharap.. kertas melayang dihadapannya.. ia tau langit akan mengabarinya.

Aku dan Kapas hitam

Aku masih bersembunyi di balik gulita malam
Berharap tak ada yang melihat wajah konyolku ini
Takut kalau kalau dijadikan bahan lelucon oleh bintang bintang bodoh itu
Takut kalau kalau mereka menemukan setitik kemunafikan dari salah satu tetes air mataku

Rembulan masih setia menemaniku
Menyimak setiap kata kata serapah dari bibir kejiku
Kucerocosinya dengan kisah pengkhianatan bagaskara
Dibumbui hinaan dan cacian hiperbola
Diakhiri letupan letupan amarah di setiap paragraf ceritaku

Dengan sabar diangguk anggukan kepalanya
Hingga cipratan air mataku pun tak digubrisnya dengan sepatah katapun
Raungan dan teriakan gilaku pun tak dilerainya
Hampir saja ku obrak abrik seluruh bima sakti
Jika saja lengannya tidak melingkari tubuh rapuh ini

Pantulan sinar bagaskara memancar dari seluruh sudut tubuhnya
Semakin menyiksa batinku
Mengukirkan luka menohok di seluruh bagian tubuhku
Menyuarakan dusta dalam setiap binar sinar itu

Aku benci merindukanmu
Aku benci mengingat semua itu
Jika dulu kubilang aku mengerti
Itu hanya salah satu dialog drama kemunafikanku
Sebenarnya aku tidak pernah bisa mengerti

Satu hal saja yang aku percaya dari semua ini..
Suatu saat kau akan bertekuk lutut dihadapanku
Merapalkan kata kata maaf dari bibir brengsekmu
Membakar laut dan segala kejalangannya
Menciumi punggung kakiku
Dengan air mata sesal di ujung dagumu
Dan kedua belah tanganku membelai sesap nafas hangatmu
Membuang segala bentuk kebohongan yg tersisa di tiap hembus udaramu

Gadis itu menangis dalam diamnya. Tersungkur kedalam pasir pantai yang lembut. Perlahan matanya terpejam. Seakan ingin menghentikan setiap aliran pedih yang kian menderas. Matanya terus terpejam hingga terbuai. Raganya yang rapuh terlalu lemah menanggung semuanya. Hal apapun yang dirasakan langit, sesungguhya dirasakannya jua..
Yang dia harapkan hanyalah..
 Kedatangan matahari  saat matanya terbuka nanti..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar